Category: Tentang Aku


Aku Harus Tetap Gila

Sepertinya bulan ini pikiranku melayang entah kemana. Ribuan cerita, ide gila yang biasanya bermunculan dalam kata, gerak dan tulisan berhenti begitu saja. Gemblung! Padahal aku merasakan seabrek ide sedang memenuhi pikiranku. Tapi kenapa tak bisa aku semprotkan seperti biasanya? Malahan aku merasa lubang yang biasanya bisa aku atur untuk mengendalikan alirannya mampet. Ini aneh.

Setelah aku renungkan di kamar mandi (tentu tanpa mandi) aku sedikit menemukan pencerahan. Mungkin ini karena aku terlalu banyak menahan pikiran dan kata yang (dulu) biasa aku umbar sesuka hati. Ini juga aneh. Tak biasanya aku menahan pikiran dan ide sinting dalam tempurung otakku. Apa akau sedang jatuh cinta? Cuiiihhh!!! Atau jangan-jangan aku sedang memasuki frase ‘waras’ dalam sejarah hidupku? Mbuhlah, aku gak ngerti!

Mungkin karena itu juga seminggu lalu aku terkapar tak berdaya; sakit. Badan rentaku merespon dengan cepat aktifitas pikiranku yang macet total. Pikiranku yang membuatku sakit. Pikiran yang semakin lama justru semakin mengkhawatirkanku. Mau tak mau aku harus menjadi polisi yang piawai mengatur lalu lintas pikiranku ini. Kalau perlu, aku main semprit buat menilang pikiran, rasa dan ide yang bandel menggumpal plus mambuat macet pintu yang harus dilewatinya. Aku hanya ingin tetap gila seperti sedia kala. Aku harus tetap gila. Ya, aku harus tetap gila!

Advertisements

Pelajaran Hari Ini

Hari ini aku belajar dari banyak orang; Tentang waktu, tentang tim, tentang sales, tentang pertemanan, tentang nasionalisme, tentang branding, tentang muslihat, tentang ambisi, tentang intrik, tentang menipu, tentang harapan, tentang kebutuhan, tentang anak, tentang pendidikan, tentang positioning, tentang sekolah, tentang marketing, tentang materialistis, tentang mata duitan, tentang orang tua, tentang kasih sayang, tentang deadline, tentang tehnologi dan tentang sakit hati…

Belajarlah selagi bisa…

Bermain Persepsi

Mempermainkan persepsi sungguh menyenangkan. Dan ini aku alami dalam beberapa hari ini. Maka jangan salahkan aku jika kemudian ada persepsi yang –tak tanggung-tanggung– membuatku justru makin terhanyut untuk memainkannya. Di awal, sebenarnya kenakalan persepsiku muncul bukan karena sengaja, tapi karena rasa sensitifku yang teramat sangat dicampur dengan sikapku yang terlalu ragu-ragu untuk memutuskan sesuatu.

Persepsiku selalu sisakan bias yang membuatku semakin berada di nominasi laki-laki paling ragu-ragu sedunia. Bahkan aku sempat menyandang gelar laki-laki paling plin-plan seasrama putri di Indonesia. Tidak apa-apa, plin-plan bukan ‘muka dua’. Lagipula, plin-planku berasal dari keragu-raguanku, dan itu sifatku. Lebih jauh, keragu-raguanku adalah bentuk dari banyaknya pertimbangan di kepalaku. Itu sikap hati-hati versi nyleneh hehehe…

Di kepalaku, apapun bisa menjadi apapun. Persepsi yang ada di kepalaku bisa menyublim menjadi prasangka. Prasangka inilah yang lahirkan penilaian-penilaian terhadap sesuatu. Penilaian yang notabene menjadi sumber pilihanku. Pilihan yang aku pilih dengan ragu-ragu. Pilihan yang muncul karena permainan persepsiku yang njlimet.

Mungkin kebiasaan bermain-main dengan persepsi jadikan aku lebih hati hati. Yang artinya, aku harus lebih cerdas berprasangka, harus lebih jeli menilai dan harus makin lihai kerucutkan topik. Karena aku manusia; Berpikir itu manusiawi, seperti juga mempermainkan persepsi.

Perjalanan Membunuh Waktu

Beberapa hari tidak menulis sungguh menjadi siksa menahan semua tulisan di dalam kepala. Mungkin akhirnya ini terjadi juga, bahwa aku bisa tak sengaja jauh dari ngeblog.

Di awali beberapa hari lalu, ketika rencanaku pergi keluar kota tertahan pekerjaan yang tak berhenti. Kemudian di hari selanjutnya, kereta api meninggalkanku yang terjebak macet di lalu lintas Jakarta yang ruwet. Busway dan taksi ternyata tetap tidak mampu aku andalkan untuk membelah Jakarta.

Terdampar di Gambir dengan perut kosong dan tas ransel penuh barang menjadi deritaku selanjutnya. Lalu? Nyungsep di kantor sahabatku Radio Dalam janjian makan siang. Setelah itu nyasar ke Pasaraya Blok M, pura-pura baca koran sambil tiduran di sofa empuk (gak peduli satpamnya sewot), agak sore janjian dengan sahabat ke Plaza Semanggi. Di tempat ini, bahkan sempat mengikuti bincang bebas kampanye anti rokok.

Duh, jangan cap aku sebagai hedonis. Tapi itu benar-benar perjalanan membunuh waktu hingga jam kereta malam tiba, yang terjadi begitu saja, tanpa rencana…

Sekarang aku sudah ada di sebuah kota yang penuh keindahan buatku. Bermain dengan 2 boneka kecilku. Lucu.

Ingin Menangis…

….

….

….

… and I don’t wanna miss a thing…

Sabar itu Palsu!

Sampai sore ini aku masih menahan diri untuk tidak melepaskan emosi yang sudah sampai di ujung lidah. Sejak kemarin, ada satu kondisi yang menyentil kesabaranku selama ini. Sabar yang selama ini menjadi tembok beton yang aku miliki tiba-tiba berubah menjadi selembar kertas tipis siap berhamburan.

Kalau orang yang sabar bisa marah, apakah sabar itu ada?

Eit tunggu dulu! Ingat, aku tidak mendudukkan diri sebagai orang sabar pada tulisan ini. Aku bukan tipe itu. Aku hanya orang yang jarang sekali marah, jarang sekali meledakkan emosi dan –sedikit– tidak menyukai konfrontasi berbumbu emosi. Buatku, selama persoalan bisa diselesaikan dengan duduk sambil nyruput kopi, buat apa adu mulut?

Tapi sepertinya ada orang yang coba manfaatkan keadaan itu. Ada seseorang (dan lebih) yang coba ‘bermain’ di dalam lingkaran itu. Orang yang coba hamburkan kata, coba semprotkan dalil-dalil dan coba tempelkan nilai-nilai yang tak seratus persen dia ketahui.

Apa yang Anda katakan jika melihat seorang dokter bedah memandu seorang kepala montir cara membuka tutup oli mobil yang dipercayakan kepadanya untuk ganti oli? Oke, oke tidak apa-apa. Itu masih bisa dimaklumi. Mungkin Sang Dokter Bedah sering ganti oli sendiri, jadi tau bagaimana cara membuka tutup oli mobil miliknya itu dengan baik dan benar. Tapi bagaimana jika Dokter bedah itu mengatakan kepada Kepala Montir itu bahwa dia (montir itu) terlalu bodoh untuk menjadi montir? Bisa dibayangkan, tak perlu menunggu 5 menit untuk melihat keributan selanjutnya.

Sebenarnya sabar itu apa?
Apa sabar itu bahasa manusia untuk menyatakan ‘status’ seseorang yang belum emosi?
Apakah sabar itu ‘sifat”? Apakah sabar itu ‘sikap’?

Haruskah Aku Akhiri Kesabaran Ini?

Aku harus mempunyai kesabaran berlebih. Beberapa kali ini saudaraku mengeluarkan lidah api yang melecuti tubuhku dengan lisan tak terputus. Memvonisku dengan petuah-petuah licin yang sesungguhnya tak dia mengerti artinya. Apakah ini perlu? Apakah ini harus?

Kadang-kadang aku bertanya dalam hati, siapakah sebenarnya dia, malaikat surga yang memapahku menuju jalan benderang yang di jalan-Mu? Atau seorang yang bersuci di depanku sementara tanduk dan ekor berujung tombak mengibas di belakangnya?

Atau dia hanya ingin menjatuhkanku pada kaki-kaki di sekelilingku? Agar dia bisa berdiri lebih tinggi dengan jumawa sambil bertahta “Akulah jalan lurus!”. Entahlah. Saat mencoba melawannya dengan lidah yang sama berapi, dia selalu bisa padamkannya.

Aku menghindari konfrontasi dengan siapapun. Tapi ini justru menjadikan bumerang yang melemahkanku. Bukan tak miliki jiwa perang seperti laki-laki lain, tapi energiku hanya terbuka pada kekuatan yang lain. Kekuatan merambahi setiap persoalan dengan kepala sedingin salju. Sekalipun hati beku membiru… hingga saatnya nanti…

Haruskah aku akhiri kesabaran ini?

Rehabilitasi Pikiran

Seminggu lalu aku tak berdaya. Himpitan pikiran dan keuzuran tubuhku tak kuat lagi bertahan pada kondisi alam yang sedang berubah. Tak pelak lagi, seluruh badanku tak berenergi. Kalaupun ada, adalah energi yang hanya mampu untuk mereguk segelas air dan butiran-butiran pahit obat dari dokter. Kali ini aku kalah (hei, siapa yang bisa melawan alam!). Kupasrahkan keadaanku waktu itu pada kenyataan seadanya.

Pada balutan baju-baju tebal yang menutup seluruh tubuhku aku meringkuk setiap hari, menahan dingin luar biasa yang datang entah darimana. Belum lagi seluruh kamar yang berputar mengelilingiku, seperti tengah menari dan mencibir pada secuil otakku yang mendorongku pada kesakitan ini.

Siapa yang ingin sakit? Apakah benar sakit itu berasal dari pikiran? Apakah sakit itu karena kita masih berpikir tentang bagaimana untuk tidak sakit? Apakah sakit itu efek dari “karena kita punya pikiran?” Apakah sakit itu sebenarnya kita yang membuatnya?

Aku ingat, pernah memperhatikan orang gila di suatu jalan di kota kelahiranku saat aku kecil. Orang itu tanpa baju, kulit hitam kotor, rambut gimbal. Intinya keadaannya benar-benar ‘gila’. Tetapi badannya tegap dan terlihat sehat. Tak pernah kulihat dia mengenakan pakaian sekalipun hujan atau panas menyengat. Dan tak pernah kulihat dia tergeletak mengindikasikan bahwa dia sakit atau lelah. Setiap berangkat sekolah aku selalu melewatinya (karena dia sering mengais makanan di bak sampah di jalan menuju sekolahku). Dan itu berjalan setiap hari selama bertahun-tahun…

Apakah harus ‘tak berpikir’ untuk tidak sakit?

Dulu, seorang artis cantik yang pernah mengidap kanker (sekarang sudah sehat) pernah mengatakan di sebuah infotainment, bahwa kesehatan itu banyak dibantu oleh pikiran. Jika kita sakit parah misalnya, kata dia, tapi pikiran kita yakin bahwa kita dapat sembuh dan sehat, maka akan ada energi positif dari dalam yang mempercepat kesembuhan. Tapi jika kita sakit ringan, demam misalnya, tapi pikiran kita soal kematian dan kesengsaraan, ya sengsara dan matilah kita.

Sementara aku tergolek sakit dengan tidak berpikir apa-apa. Karena memang tidak bisa berpikir apa-apa. Hanya rindu bermain dengan anak-anakku untuk merehabilitasi pikiranku…

—-

Notes: Suatu siang ada telpon nyasar ke ponselku. Kupikir maha penting, dengan lemah kuraih ponsel itu. Terdengar suara di seberang sana, “Halo, bisa ke warnet sebentar? Si Anu minta list kebutuhan bla…bla…bla. Ditunggu hari ini, soalnya mau bla…bla…bla…”. Sepertinya aku kirim kabar kalau aku sakit sehari sebelumnya…

Beban, Siapa Kamu?

Beberapa hari ini enerjiku terkuras untuk bekerja. Tak ada yang bisa hentikanku mengulik, menarik, mewarnai, menilai dan merasai apa yang muncrat dari kepalaku. Inikah kepatuhan? Inikah kreatifitas? Satu kepala, dua tangan dan seribu pekerjaan sepertinya perbandingan yang tidak seimbang. Apalagi jika ditambah dengan seribu persoalan. Tak jarang orang akan segera hinggap pada dahan-dahan muda kegilaan. Seperti aku.

Dalam satu Trilogi Pram (Pramoedya Ananta Toer) yang bertajuk Anak Semua Bangsa, kubaca sebuah kalimat yang sampai sekarang tertanam di kepalaku: “Mencari nafkah betapa harus meninggalkan beban”. Sebuah kalimat yang selalu sadarkanku bahwa beban itu sebenarnya tidak ada. Beban itu nisbi. Beban itu berasal dari diri sendiri. Beban itu adalah bentuk pengkotakan pikiran pada sesuatu yang merasa tak sanggup dilaluinya. Putus asa? Bukan! Belum sampai pada taraf itu. Dalam hal ini aku masih melihat ‘beban’ adalah tanggung jawab yang harus aku rampungkan. Entah itu pekerjaan, persoalan atau apapun…

Satu hal yang masih ingatkanku bahwa kehidupan masih berjalan disekelilingku hanyalah gelap dan terang. Aku abaikan angka-angka pada jam dan kalender. Tolok ukur waktu kuhitung dari kapan kulihat senja dan kapan kulihat fajar; Kapan terlihat gelap dan kapan terlihat terang. Rupanya waktu masih kalahkanku (lagi) di bagian lain hidup ini. Tak apa! Itu tandanya hidupku berotasi. Aku berharap segera lalui ini dan masuk ke babak lain kehidupanku.

Aku dan Rahasiaku

Orang keluhkanku karena anggap aku sering mengeluh. Sepertinya hidup yang aku jalani adalah hidup yang serba berbatas, hidup yang seraba kurang, hidup yang serba tak punya kepuasan. Mungkin seperti itulah pendapat mereka. Aku bisa bilang apa?

Tak mungkin semua persoalan di dalam hidupku aku beberkan ke semua orang. Tentang kesedihan, tentang kegembiraan dan tentang apapun. Apa yang meraka lihat dan dapatkan dariku hanyalah sebagian ‘persoalan’ yang sudah aku saring dan anggap ‘aman’ untuk diketahui banyak orang.

Aku tak pernah berusaha untuk merebut simpati, menghiba belas kasih atau apapun yang merendahkan harga diriku (terima kasih, Dodik sudah ajarkan ini) dengan obrolan “tentang aku”. Ketika aku bertutur tentang seklumit persoalan hidupku, tak lain adalah bentuk rasa nyamanku berada di komunitas obrolan itu. Lain tidak.

Setiap orang pasti punya rahasia. Pun aku. Dan rahasia tidak selalu hal yang buruk. Ada rahasia yang menyenangkan juga, tapi ya itu tadi, setiap orang mempunyai limitasi atas rahasianya sendiri. Dan itu adalah hal yang wajar.