Category: Sajak


Indahnya Hari Libur

Berisik mesin air

Berisik suara iklan di TV

Berisik anak menangis rebutan mainan

Berisik pedagang lalu lalang di depan

Berisik suara mesin pengering cucian

Berisik peralatan dapur beradu

Berisik siulan air mendidih di dapur

Berisik telpon dan sms di handphone

Kalau Kamu

Kalau kamu aku atau aku kamu
Kamu siapa?

Kamu siapa?
Sedangkan aku bukan kamu
dan kamu tak selalu aku
Hanya kadang aku kamu
dan kamu aku

Aku tak pernah mencarimu
Karena aku pasti bukan kamu
dan aku tak pernak kamu
Apalagi kamu mengaku

Jika aku kamu atau kamu aku
Aku siapa?

Dibalik Sepi

Bulan indah penuh rahmat
Yang berbeda dari tahun lalu
Dan mungkin hingga lebaran nanti

Dibalik sepi…

Ngantuk

Ngantuk

Sakit kepala

Rindu

Buka E-mail

Kosong dan hampa

Ingat masa dulu

Tetap ngantuk…

Pernahkah Kau?

Pernahkah engkau sedemikian ambisius untuk diakui sebagai orang ‘paling’ dalam masyarakatmu? Pernahkah engkau merasa sedemikian benar di sejuta kelakuan pikiranmu yang tak pernah lurus mengabdi pada tatanan etika? Pernahkah engkau bersilat lidah memutar dalil dan fakta demi sebuah pengakuan pengkultusanmu sebagai terhebat? Pernahkah gengsimu justru menjatuhkanmu pada lubang terdalam dalam kehidupanmu? Pernahkah kau mengatur fitnah dan mencibir pada kebenaran yang sebenarnya sudah ada di ujung lidahmu? Pernahkah kau?

1001 Cara

Aku lelah. Sepertinya masa-masa kebersamaan denganmu hanya menyisa semu. Aku tak miliki lagi apa yang semula aku miliki. Seperti mutiara terangkai yang terputus talinya; mereka berjatuhan dan berserakan tinggalkan bunyi-bunyi miris yang melecut kesunyian.

Berkali-kali aku coba meraih sekelebat sempat yang aku miliki. Atau bahkah sesekali aku rendahkan diri untuk sekedar mengajakmu menari pada puisi-puisi tanpa nurani. Tapi tak berdaya. Aku –dan mungkin engkau– hanya bisa saling menista dan membimbing prasangka pada ujung-ujung kepedihan selamanya. Kita seperi berdiri pada satu garis yang sama di dua dunia. Tak mengena dan tak berguna.

Dan tetap saja menyiksa meski telah 1001 cara…

Dikubur Hidup-Hidup

Belum juga mati aku telah dikubur
Sembari dilucuti dan ditanggalkan
Sampai nanti dilupakan

Kacau

Bertubi-tubi tak pernah berhenti
Otak seperti dikebiri
Setiap hari
Hampir mati

Berkejaran seperti balapan
Otak berpikir setan
Penuh beban
Tak teremban

Benarkah ini satu jalan
Otak tak bertuan
Tanpa ilmu simpanan
Tanpa ajaran

892734 76234 762349723

6725124 152 5453 263542 o625345 02345
234765 34 347623 262687634 9634 7634 7634534
76487 34534 863456873 76345 7634 5076
38437465 345 38453 8673 6876 3409798345

909723 89234 8767 7234 72967542
234267 2347676234 76234 7627364 7623476
2347 6253495 26534 4569456 84573530 7474
8437353 7643764343 38363 386748947

838473 387484 65986 65983495 0345983 87
897 874395 3983 43956 3834593
3858 987589075 973867 3869 89734589 3873
9874355 98435 8973487 0556734 737

—-
Angka juga ingin bicara, karena dia juga punya jiwa, dan bumi adalah angka-angka…

Pernahkah?

Pernahkah merasa kecil?
Pernahkah merasa kerdil dari kerikil?
Pernahkah tak lebih berharga dari secuil upil?

Pernahkah membayangkan laut?
Pernahkah menghayalkan di tengahnya engkau kalut?
Pernahkah hadapi yang paling kau takut?
pernahkah akhirnya kau merasa bagaikan kentut?

Pernahkah kau bertemu macan loreng?
Pernahkah jadi saksi ganasnya yang mentereng?
Pernahkah menatap ganasnya mata kelereng?
Pernahkah akhirnya kau hanya sebesar koreng?

Akan ada masanya…
Yang mentereng menjadi koreng
yang laut menjadi kentut
Yang kerikil menjadi upil

Lalu buat apa kau rasa raja?