Category: Rupa-rupa


Teman Yang Aneh

Aku mengenalnya lebih dari 5 tahun yang lalu. Hubunganku dengan dia dekat. Satu keanehan yang dia miliki adalah dia tidak pernah memberiku nomor HP-nya, sekalipun aku minta. Bahkan dulu, untuk tahu tanggal lahirnya pun aku harus berusaha sendiri (kayak artis aja deh!). Sekalipun akhirnya berhasil menemukan tanggal lahirnya, tetapi sampai hari ini aku tidak tahu nomor hp-nya. Sungguh seorang teman yang aneh…

*mungkin takut aku sms/telp mau pinjem uang hihihihi…

Advertisements

Mencibir di Hasil Akhir

Hal paling sulit yang aku rasakan adalah menebak secara akurat keinginan seseorang. Setelah lama berkecimpung di dunia otak-atik gambar dan warna tetap saja kemampuan itu tak pernah sampai ke ujung tertingginya. Yang bisa aku lakukan adalah meraba hingga mencapai jarak terpendek dari keinginan seseorang atas ‘pesanan’ yang diinginkan.

Sebenarnya keinginan orang atas ide atau ‘tindakan’ kreatif kita juga tidak kaku sama persis dengan apa yang ada di otaknya. Dia akan membuka pintu ‘negosiasi’ karena sejujurnya orang tadi tidak tau pasti apa keinginan mutlaknya. Dia sadar, ini adalah kerja seni, bukan sains yang nilainya mutlak. Tapi itulah hebatnya kreatifitas, bisa memvisualisasikan keinginan seseorang yang disampaikan secara lisan, tidak runtut, dan kadang-kadang berbenturan dengan nurani seni atau ‘kaidah-kaidah’ kreatif sang creator.

Hal paling menjengkelkan adalah bertemu orang yang mendaulat nurani seni kita untuk menebak akurat-tepat-persis keinginannya, sedangkan dia tak mengerti apa yang dia sendiri maui, hingga dia mencibir di hasil akhir atas ‘usaha seni’ yang kita perjuangkan. Orang seperti inilah yang harus segera kita alt+ctrl+del eksistensinya karena asli ngeselin!

Disiksa Sisa Kenangan

Kuhimput dadaku yang tiba-tiba berdetak di kedalaman tak terhingga dengan kedua lenganku. Tapi masih saja dentumnya goyahkan langkahku yang berusaha tegak berdiri. Sampai akhirnya aku terjatuh bertumpu pada satu lutut kananku. Aku kibaskan kepalaku berulang untuk mengusik bayangan yang selalu menghantuiku; Masa lalu yang selalu saja meninju-ninju hatiku seperti ingin menghancurkan dindingnya.

Aku ingat tak sekali dua kali perasaan seperti itu muncul dan menyudutkanku pada kesendirian yang panjang. Begitu juga pada kepedihan, pada kekecewaan dan pada kerinduanku. Segores cerita itu telah membekas dalam di sekujur masa laluku yang tak mungkin dengan begitu saja bisa terhapus. Ini sungguh berbeda dengan guratan di pasir pantai yang hilang tersapu ombak yang membelainya.

Aku sadari bahwa waktu juga yang akan membantu menyembuhkan luka menganga di jiwaku. Hingga entah kapan…

Ini kejadian yang memalukanku. Diawali sore kamarin ketika sebuah sms dari rekan alumni sekolahku mengabarkan hal yang mengagetkanku, “Buka fb pak! ada berita duka. Pak Tris Meninggal Dunia.” Dengan sigap aku membuka fb grup alumni. Tanpa membaca wall “berita duka” yang ada di situ aku langsung menuliskan comment belasungkawa atas meninggalnya Pak Tris. “Innalillahiwaina’ilaihi roji’un, semoga Pak Tris mendapat tempat yang indah di sisi-Nya. Pak Tris adalah salah satu guru yang banyak berjasa pada pendidikanku di masa itu” tulisku. Apa yang aku tulis bukan mengada-ada, memang Pak Tris banyak membantu pendidikanku saat SMP hingga aku bisa mendapat beasiswa 3 tahun penuh. Jadi berita meninggalnya Pak Tris memang membuatku berduka.

Bebera saat lalu aku makin kaget ketika membaca comment baru di fb grup alumni tentang berita duka ‘meninggal’nya Pak Tris yang ditulis oleh kakak angkatan alumniku; “yang meninggal bukan pak trisno, tetapi istrinya…”. Tanpa ba,bi, bu, langsung aku delete comment-ku sebelumnya dan membuat comment berduka atas meninggalnya istri Pak Tris. Bersamaan dengan itu, sebuah sms dari teman yang pertama kali sms berita duka itu aku terima; “Pak maaf, salah info, yang meninggal istrinya Pak Tris. Maaf ya.”

Aku malu dan merasa tidak enak hehehe. Semoga Pak Tris tidak punya fb.

Rumba, Ayah dan Gadjah Mada

Wanita berkacamata itu memasuki rumah sebentar, kemudian keluar dengan posisi tas coklat di pundak kirinya –tidak berubah seperti ketika dia masuk– dan masih tanpa melihatku sama sekali. Aku diam, tak berani menyapanya. Aku tau, percuma mencoba menarik perhatiannya karena memaksanya sama dengan mencoba menerobos dinding batu.

Aku kaget setengah mati, tiba-tiba orang berlarian di depanku. Sinar hijau berserabutan di sekitarku.

“Rumba ngamuk, Rumba gamuk,” teriak orang-orang sambil berlarian.

Rumba? Rumba adalah anak kampung sebelahku yang paling badung. Segala kriminal kelas kampung telah dia lakukan. Selain nyopet, maling dia juga suka malakin anak-anak sekolah.

Aku penasaran. Bergegas kutuju asal orang berlarian di kuburan tua. Aku lihat orang-orang sakti di kampungku mencoba melawan Rumba yang mengamuk, menyakiti semua orang yang mencoba menghalanginya serta mengobrak-abrik kuburan.

“Aku orang paling sakti, tak ada yang bisa melawanku,” teriak Rumba sambil mengayunkan tangannya ke depan. Sinar hijau melambung dari tangannya, menjatuhkan kumpulan batu nisan yang ada di depannya. Kemudian Rumba menjejakkan kakinya ke tanah dan meloncat sampai ke langit. Beberapa saat akhirnya dia sudah turun dan berdiri pongah di tempat semula.

Aku lihat ayahku hendak mencoba melawannya (Aku rindu ayahku). Tapi aku melarangnya karena kulihat kekuatan Rumba begitu luar biasa. Aku yakin Rumba tengah kerasukan. Tak mungkin dia punya kekuatan sakti sebesar itu. Ayahku jadi ragu.

Tak lama dari belakangku muncul orang dengan dandanan yang begitu kukenal, Rambutnya digelung ke atas dengan baju jaman Majapahit. Aha, dia Mahapatih Gadjah Mada. Dia turun dari langit untuk mengatasi keributan yang dilakukan Rumba. Sungguh kehormatan buat penjahat kampung sekelas Rumba.

Sedetik kemudian aku merasakan sebuah suara berdengung di belakang telingaku. Seberkas sinar hijau menghantam perut kananku. Aku rasa ngilu. Samar-samar kulihat tembok kamarku. Kipas angin meniup punggung dan telingaku dari belakang.

Aku bangun. Sialan! Mimpi yang aneh.

—–

Ini adalah mimpi yang aku ceritakan apa adanya. Mimpi yang aku alami kemarin, jadi wajar jika tak masuk akal. Tapi soal rindu pada ayahku itu, aku sungguh Rindu…

(Tak) Ada Gula Ada Semut

Semut-semut di mejaku semakin mengganggu. Mulai dari gelas kopi, henpon, remote sampai papan ketik dijelajahinya. Belum lagi tumpukan kertas, dinding bahkan kaki dan tanganku digerayanginya. Memang hanya ‘semut gula’, tapi jika kedatangannya tak sekedar lewat, ini membuatku kelimpungan, risi dan geli. Gila!  Tak ada gula ada semut! Tak terhitung, berapa puluh semut dalam sehari aku binasakan karena menggerayangi tubuhku dan sesekali menyengatku. (Jika Ketut Epi bertanya, mengapa diciptakan kecoa. Maka aku bertanya, mengapa diciptakan semut? hehehe…)

Segala upaya sudah aku lakukan untuk mencegah kehadiran semut-semut itu, mulai dari mengamankan makanan dan minuman manis, membersihkan remah-remah makanan, mengurangi tumpukan kertas, menggunakan kapur anti semut, dan sebaganya. Tapi binatang kecil masih saja ‘kondangan’ ke area aktifitasku. Mungkin Raja Semut mendoktrin pasukannya untuk ekspansi ke semua kawasan dimana aku berada, demi makanan dan demi rantai kehidupan yang harus tetap terjaga. Tak peduli resikonya jika harus mati terinjak, digencet, atau tersapu tiupanku yang akan melemparkannya entah kemana.

Sungguh binatang kecil yang pantang menyerah…

Ini tulisan mengenai teman baru di kantor lama yang terjadi bukan baru-baru ini. Badannya yang kurus makin terlihat kurus karena dia sering menggunakan celana ketat, model celana anak-anak punk. Aku tau dari anakku bahwa celana model itu lagi trend dan biasa disebut ‘celana pensil’. Pas, memang kakinya jadi seperti pensil yang belum diraut. Setiap orang yang melihat temanku berjalan sering bertanya dalam hati, apakah kakinya cukup kuat menahan tubuhnya saat membawa tas di pundak kirinya?

Wajahnya putih, kumisnya tipis. Rambut gondrong sepundak dan selalu dikuncir. Sikapnya yang pendiam waktu itu membuat teman-temanku yang lebih dulu di kantor itu penasaran. Untung saja dia satu tim dengan karibku yang unik juga (Sama-sama suka memakai celana pensil, hanya rambutnya yang beda. Karibku ini rambutnya kriting, bergelang bahar dan pernah kepergok CEO saat merokok di kantor huahaha…), sehingga jalur-jalur canggung menjadi pegawai baru bisa dilaluinya dengan cepat.

Aku lupa siapa nama pegawai baru itu tepat 10 detik setelah dikenalkan oleh HRD. Seingatku namanya Candra, Cici, Rindang, Cassandra, Diandra, Rindra, Rinda, Nanda, Baginda, Udin, Rahmat, Udin, Fauzi atau apalah. Tapi belakangan aku mendapat konfirmasi via Mukabuku mengenai nama aslinya, yaitu….

Drakula Haus Darah

Siapa bilang Indonesia bebas pungli?

Beberapa hari lalu saya bermaksud mengurus Surat Domisili Usaha di satu kota. Saya sudah berniat untuk mengikuti prosedur pengurusan surat ini dengan benar, sekaligus ingin membuktikan apakah di jaman ini birokrasi pemerintah masih ‘haus darah’ . Terus terang, sudah tertanam di kepala saya sejak dulu bahwa birokrasi pemerintah –baik itu tingkat kampung maupun kota besar– adalah ‘birokrasi drakula’. Birokrasi yang haus uang pelicin, uang rokok, alias uang administrasi fiktif.

Dulu, jangan harap kita bisa membuat ktp tanpa mengeluarkan uang ekstra untuk menyumpal birokrasi pemerintah terkecil ini. Padahal membuat ktp itu adalah wujud kesadaran kita supaya pemerintah/pemda mudah mendata setiap warga untuk kepentingan yang lebih besar lagi (statistik nasional, dsb). Kebiasaan itulah yang membuat orang enggan berlama-lama masuk dalam ‘birokrasi drakula’ itu untuk mengurus surat-suratnya sendiri; Sudah capek masih harus mengeluarkan uang ekstra. Akhirnya banyak yang ‘menitipkannya’ pada jasa pengurusan surat-surat ini (calo). Sama-sama mengeluarkan uang, tapi tidak capek.

Paradigma itu berlangsung terus menerus dan turun temurun sampai akhirnya menjadi ‘hal biasa’ dalam sebuah birokrasi pemerintah. Mala jangan heran kalau pada birokrasi yang lebih besar, “uang administrasi” jumlahnya menjadi jutaan bahkan milyaran!

Kembali ke cerita saya. Sejak dari pengurus RT saat mengajukan surat pengantar pembuatan surat domisili usaha, Sang RT sempat menawarkan kepada saya untuk ‘membantu’ mengurus surat itu dengan menyebut angka tertentu. Dengan halus saya menolaknya. Berlanjut ke pengurus RW, di sini lebih santun, begitu selesai memberi stempel, Sang RW langsung membaca koran. Saya beruntung, setelah berterima kasih saya langsung pamit menuju kelurahan.

Di tempat yang pegawainya berseragam coklat inilah aura drakula mulai terasa. Dari pintu masuk saya melihat sekumpulan pegawai sedang ngobrol asyik dan heboh. Beberapa orang terlihat duduk di meja yang bersih tanpa satu dokumenpun di atasnya. Jadi tak enak kehadiran saya terrasa mengganggu. Tapi saya cuek, toh ini kantor layanan masyarakat. Bla, bla, bla, akhirnya saya masuk ke ruangan Sekretaris Kelurahan. Jujur saya tidak tahu, apakah untuk mengurus Surat Domisili Usaha harus duduk di ruang SekLur? Tapi sekali lagi, saya cuek aja, mungkin memang bagian dia.

Bla, bla, bla. Syarat-syarat pengajuan Surat Domisili Usaha saya sudah lengkap. Akhirnya saat yang saya nantikan tiba…

“Ini selesainya 3 hari Mas, administrasinya ‘sekian’,”

“Kok besar sekali Pak?”

“Memang segitu Mas, kemarin malah ada yang lebih besar. Oh, iya, nanti kalau di Kecamatan bilang aja dari saya biar ngasih kesananya gak banyak, paling ‘sekian’…,” lanjutnya berharap menjadi pahlawan di mata saya. Saya manggut-manggut mirip lele mendengar celotehnya sekaligus kaget dengan angka yang mesti saya keluarkan lagi nanti di kecamatan.

Akhirnya saya permisi keluar dengan alasan mengambil sejumlah uang dulu karena uang saya tidak cukup. Sang Seklur menahan saya, menawarkan apakah mau dibantu mengurus surat itu. Saya menggeleng. Saya membayangkan angka yang lebih fantastis lagi jika surat ini dibantu pengurusannya.

Bukan soal pelit atau apa, tapi surat yang ingin saya buat ini kan untuk kepentingan negara juga (untuk menggaji dia juga secara tidak langsung). Surat Domisili Usaha ini untuk syarat membuat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) supaya ke depan saya bisa bayar pajak untuk membangun negera ini. Sekalipun pajaknya –mungkin– tidak milyaran tapi itu bentuk kesadaran saya untuk membangun negara ini; Untuk membangun negara di mana drakula-drakula itu hidup dengan keluarganya.

Tidak salah jika paradigma saya tentang birokrasi pemerintah di negeri ini tidak belum berubah.

PR The Smile Stone Award

the-smile-stone-award1Dulu aku pernah mendapat PR Blog saat awal-awal bergabung di blogdetik. Dan seperti PR-PR yang aku terima sejak aku masih kecil; Aku sering lupa mengerjakannya. Tapi kali ini aku mau jadi blogger yang rajin mengerjakan PR, biar naik kelas. Buat Bro Boeding (http://boeding.blogdetik.com), terima kasih atas ‘kepercayaannya’ memberiku PR lucu ini.

Maaf, untuk logo The Smile Stone Award aku ulik sedikit biar warnanya tetap satu rasa dengan themes blogku. Tapi tenang, warna kuning tetap muncul kok sebagai warna asli logo The Smile Stone Award. Please, mohon jangan disomasi ya hehehe. Kalau d’Blogger pengen dapetin versi asli logo The Smile Stone Award, silakan klik disana. Dimana? Disana, di blognya Bro Boeding…hahaha…biar tambah pusing deh.

Ok, sekarang PR-nya aku jlentrengkan ya, silakan disimak:

  1. Blogger yang mendapat Award dan PR ini harus memajang banner di blognya
  2. Tautkan link blog yang memberi Award dan PR pada banner tersebut
  3. Nominasikan minimal 7 Blogger untuk menerima Award dan PR selanjutnya, dan pastikan mereka benar-benar menerima pemberitahuan nominasi itu
  4. Sebutkan 10 hal yang membuatmu tersenyum hari ini
  5. Pastikan peraturan ini diposting Award dan nominasi kamu

PR nomor 1 dan 2 udah aku selesaikan.

Dan inilah 7 blogger yang aku nominasikan….jreng, jreng

  1. Rumahkayu ~ http://rumahkayu.blogdetik.com
  2. Padiemas ~ http://padiemas.blogdetik.com
  3. Yudhiapr ~ http://yudhiapr.blogdetik.com
  4. Maureen ~ http://thismaureen80.blogdetik.com
  5. Baba ~ http://babacilukba.blogdetik.com
  6. Julie ~ http://julie.blogdetik.com
  7. Lemontea ~ http://lemontea.blogdetik.com

Terakhir adalah 10 hal yang membuatku tersenyum hari ini…

  1. Inget Lintang yang kalau bobo maunya aku dipeluk
  2. Inget Langit yang semua hal maunya aku layani
  3. Liat foto dan komentar lucu di Facebook
  4. Bayangin wajah temen yang gak bisa buka Facebook di jam kerja
  5. Inget gila-gilaan ama teman-teman di Buncit yang selalu “gak sehat”
  6. Liat avatar Cyperus yang aerodinamis
  7. Inget BCL di motor, mobil, meeting, gila pokoknya!
  8. Lintang SMS indah banget buatku
  9. Saat ngliat mukaku di kaca, minim banget
  10. Mikir betapa lamanya ngerjain PR ini

Tuh udah selesai PR-nya. Aku sudah hitung waktunya mulai mengerjakan PR ini sampai selesai; 2 jam.

Ampun dehh…

Gara-Gara Menunggu

Kemarin adalah hari paling penuh ujian kesabaran buatku. Dan aku menggores sejarah pagi itu; Aku bisa marah karena menunggu. Gara-garanya sepele, aku harus menunggu untuk mengurus sesuatu di sebuah kantor layanan publik negeri.

Setelah mengisi nama dan alamat di buku antrian kuno (buku catatan panjang, yang bisa untuk catatan tukang kredit keliling tahun  80-an) aku duduk menunggu di bangku ketiga, sebelah suami istri yang juga sedang antri. Tak sampai 5 menit, suami istri tadi mendapat panggilan dari pegawai cantik yang masih wangi. Aha, sebentar lagi giliranku…asekkk…

Sekitar 10 menit kemudian suami-istri itu keluar. Tapi namaku tak juga dipanggil. Aku santai, mungkin pegawai cantik tadi masih berbenah. 10 menit, 15 menit tak juga dipanggil. Malah aku melihat seorang tamu yang slonong boy masuk ke ruangan itu dan mendapat layanan lebih dulu. Bebek aja ngantri! Tapi, sabarrr…aku ngelus dada…sabarrr….

Sampai akhirnya ketika tamu “bukan bebek” itu keluar, aku menghampiri ruangan itu. Saat itu aku lihat pegawai cantik itu sedang online dengan HP-nya. Sementara pegawai yang lain bolak-balik di depanku. Sibuk. Sekilas pegawai cantik itu melihatku dengan tetap asik menelpon, tanpa ekspresi dan tanpa sungkan.

Emosiku mulai terpancing merasa diabaikan dan tak satupun pegawai di kantor itu yang berinisiatif membantuku, padahal sudah tidak ada satupun tamu. Setelah kulihat pegawai cantik itu menaruh HP-nya, aku mengetuk pintu yang terbuka, tanda minta perhatian.

“Mbak, giliran saya kapan?”

“Sebentar ya, Pak” tukasnya sambil tetap menghadap komputer.

“Mbak, tolong saya dikasih alasan, kenapa saya harus menunggu…”

“Sebentar ya Pak, sedang disiapkan,” elaknya. Disiapkan? Disiapkan apanya? Dia belum tahu kepentinganku ke situ mau ngapain tapi dia bilang sedang disiapkan. Jago banget nih, pikirku…

“Mbak, sebenarnya urusan saya ini siapa yang mau menangani? Apa pegawai bagiannya belum datang?” desakku. Intinya, kalau saja pegawai cantik itu bisa menjelaskan alasan masuk akal kepadaku kenapa aku harus menunggu, aku akan menunggu.

“Semua bisa saya tangani Pak, jadi nanti saya yang tangani.” Weladhalah, saya tambah empet sama kalimatnya yang semakin tidak profesional.

“Mbak, saya harus nunggu sampai kapan ini?” Intonasiku mulai meninggi.

“Bapak tunggu aja dulu, nanti saya panggil. Pekerjaan saya belum selesai,” kilahnya. Semprul. Cantik-cantik ngomong seenak udelnya.

“Mbak, kalau pekerjaan Mbak selesai, Mbak nggak bakal di sini, kalau nggak pulang yang Anda dimutasi!” jawabku sambil melotot.

Tak sampai 10 detik kemudian tiba-tiba seorang pegawai laki-laki (yang tadi lalu-lalang di hadapanku) menghampiri dan membantuku menyelesaikan urusan pagi itu. Tak sampai 10 menit urusanku selesai. Coba dari tadi aku dilayani sesuai standar layanan umum (emang ada? hayahhh…), tak akan ada emosi dan pegawai cantik itu tak perlu keki.

Duh, kenapa layanan publik negeri selalu begitu…