Category: Otak Kiri


Kepentingan

Beberapa hari ini aku berpikir tentang ‘kepentingan’. Kepentingan menjadi semacam tolok ukur paling tinggi untuk menyimpulkan ‘ingin’, ‘harap’, ‘butuh’, ‘pamrih’, dan nilai-nilai mutualisme yang lain. ‘Kepentingan’ ini malah menjadi semacam ‘keinginan’ yang tersirat dari sebuah hubungan. Hubungan apa? Hubungan apa saja, pertemanan, persaudaraan, keluarga dan lain-lain, bahkan permusuhan!. Aku masih ingat status salah satu kawan di facebooknya: Tidak ada pertemanan yang abadi, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Sungguh ‘kepentingan’ mempunyai arti yang sangat dalam.

Saat ‘kepentingan’ ini berlaku dalam sebuah hubungan sosial maka semua jalan berujung pada nilai-nilai keuntungan semata. Bisa keuntungan materi atau keuntungan non materi. Dan sebagai manusia, wajar jika mengakui semua mempunyai kepentingan. Kepentingan atas pekerjaan, kepentingan atas pergaulan, kepentingan atas kepercayaan; Kepentingan atas apapun!

Maka rambu “Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Berkepentingan” sesungguhnya masih terlalu absurd. Karena siapapun yang masuk pasti mempunyai kepentingan. Bahkan ketika seekor kucing memasuki ruang ‘terlarang’ itu!. Kucing itu pasti punya kepentingan; mencari makan, mengejar tikus atau apapun. Apalagi jika manusia yang memasukinya…

Kepentingan adalah segalanya karena keberadaanya melingkupi semua hasrat dan niat manusia atas sebuah hubungan. Tak ada yang tidak penting, karena semua mempunyai kepentingan.

Advertisements

Mulut Api

Aku lelah, tapi masih saja memaksa otakku menjaga keseimbangannya dengan segala daya. Sudah 28 jam lebih aku memacu mata dan otak kanan-kiriku untuk merumuskan kaidah-kaidah irasional ke dalam bentuk yang tak biasa. Dan di sini, menyendiri menenggak kopi adalah caraku mempertahankan kelopak agar tak menuntut mengatup.

Kulihat berkeliling: Manusia-manusia tanpa jiwa lalu lalang di sekelilingku dengan tubuh tegap, congkak dan penuh prasangka.

Di balik kelopak yang indah dan memantul warna warni lampu itu tersimpan kemarahan dan kebencian terhadap apapun yang di hadapannya. Pada kursi, pada meja, pada dinding dan tentu pada manusia ‘terendah’ yang duduk di lantai sambil mengerang.

Dan setiap mulutnya terbuka hendak bicara, semburan lidah api dan remah-remah kaca merobek dan membakar semua yang dihadapinya. Menyakiti hingga ulu hati, mengiris hingga darah mengalir amis.

Aku tak lagi sanggup melihatnya. Biarlah manusia-manusia tanpa jiwa itu menjalankan tugasnya sebagai dajal dari lidah api yang selalu membakar jiwa segala di hadapannya.

Aku menutup mata. Menghitung langkah dalam hati hingga manusia tanpa jiwa itu ada di sisi. Kopi ini harus kusiram ke mulutnya hingga apinya mati.

Harapan

Pernahkah engkau berharap akan sesuatu?

Konon, harapan adalah konsep mentah semangat yang masih menempel di kamar-kamar otak kita. Sekali kita membukakan pintu untuknya keluar, maka harapan itu berangsur-angsur berubah menjadi semangat dan berakhir pada sebuah target dari apa yang ada di hati kita. Mungkin analisa dangkal mengenai harapan itu salah tapi –mau tak mau– itu benar terjadi di sekelilingku.

Bilakah harapan tak berakhir pada target yang disasar?

Ya! Harapan tak melulu mulus meninju titik tengah target yang ingin diraih. Harapan tetap saja masih berujud konsep otak yang dipengaruhi oleh seluruh kehidupan yang berlaku di sekelilingnya. Jika semesta disekelilingnya mendukung konsep harapan yang kita buka, maka tak lain selain tercapai apa yang kita harap. Begitu juga sebaliknya…

Apakah harapan berhubungan dengan keberuntungan?

Aku tak tau…

Sembilu

Ada yang tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja di setiap jejak nafas yang engkau sisakan. Sepertinya keadaanmu saat ini telah menjadikanku pelakon monolog yang layak diolok-olok oleh kerinduan yang menohok. Kerinduan lagi? Sejatinya sesat apa yang aku lakukan hingga kerinduan yang semestinya indah malah mengiris dan berdarah?

Mungkin pada sebagian orang rindu tak selalu sembilu.

Andai saja aku tak usil merangkai lagi remah-remah kenangan yang bertebaran di kiri kananku mungkin tak kualami sembilu ini.  Sudah cukup perih tertanam dalam hidupku saat keindahan kau renggut dan kau kibaskan pada dingin hatimu; meninggalkanku tanpa ampun, bahkan tak pada seulas katapun!

Atas simbilu itu, kenapa begitu susah menguburmu di jejak masa laluku?

 

— Seorang sahabat membukakanku jalan menjauhi sembilu yang kau tinggalkan. Dia yang menopangku saat tertatih, dia yang menyediakan lengan untukku yang terseok melalui sekumpulan kitab-kitab indah dan mulia. Katanya: Karena sembilu telah mengiris hatimu, maka hatimu yang harus engkau obati, bukan pada pikiran dan emosimu. Duhai, sahabat yang menenangkanku…

Pagi Tadi

Aku duduk di desakan penumpang trans Jakarta pada jam kerja. Terbelalak aku pada buku lama Agus Noor yang membuatku merasa waktu terpotong lebih pendek? Menyenangkan sekali berpura serius membaca, menikmati kata dan cerita yang sengaja jauhkanku dari etika dan tepo seliro. Tak menghirau aku pada bapak tua yang berdiri terhimpit atau ibu separuh umur yang sempoyongan berdiri menjaga imbang dari bus yang melenggang.

Untuk apa terlihat intelek membaca buku, mendengarkan musik atau berpura-pura tidur dalam bus ini? Agar tak berkewajiban memberi bangku nyaman ini pada orang tua, wanita hamil, anak-anak atau siapapun? Atau untuk membuatmu tetap hidup karena tidak mati kelelahan menopang kaki dalam sepenggal perjalanan dari satu halte ke halte berikutnya?

Imajinasi dan fantasi seperti menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kadang-kadang keduanya munculkan persepsi yang bias di kepalaku. Jangan tanya tentang apa, karena semua bisa saja berseliweran di kepalaku. Tak peduli soal ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan –> Hai, kok jadi inget jaman jebot ya…) maupun soal printilan cinta.

Aku mencoba jadikan kepalaku sebagai padang rumput dimana imajinasi menyulap dirinya menjadi sekumpulan kambing yang bebas merumput dibawah rindangnya pohon-pohon fantasi. Yang membuatku senewen adalah saat kambing imajinasi itu kekenyangan merumput. Sontak mak blak babak bunyak tokay markengkong bulet-bulet segentong mengotori ranah penggembalaan hijau di kepalaku. Sekalipun adem dan sejuk sepoi-sepoi, tetap saja butiran tokay kambing mengganggu kesempurnaan ‘dunia kepalaku’.

Akhirnya persepsi keindahan antara kebun dengan rumput tinggi subur, sekumpulan kambing montok dan rindangnya pohon yang menaungi, berubah menjadi sebuah toilet kecil yang menjijikkan. Bukan salah tokaynya! Tokay adalah edisi akhir dari proses metabolisme tubuh. Jadi dia adalah “akibat” alias obyek penderita. Kalau soal bau dan bentuknya yang aneh, itu memang haknya si tokay kambing.

Membebaskan imajinasi dan fantasi memang tidak mudah. Ada batasan absurd yang dibangun oleh manusia yang merasa dirinya ‘super’ hingga kesampingkan tulusnya imajinasi dan fantasi. Bisa dibayangkan sekerdil apa manusia itu! Dia hanya melihat sesuatu dari sisi yang salah, melihat sesuatu dari sisi dimana dia berdiri, melihat dari sisi dimana kebenaran (yang juga absurd) itu dia yakini. Malangnya…

Jadi tetap saja tokay yang disalahkan! Karena dia pembawa aroma neraka, dia pembawa comberan petaka. Hingga imajinasi dan fantasi menunggu mati suatu hari nanti.

Kancut Putih

Lebih dari tiga puluh lima tahun aku tidak pernah memakai kancut (celana dalam) warna putih. Samar-samar aku ingat terakhir kali memakai kancut putih…mmm…saat umur 4 sampai 5 tahun! Itu juga karena aku selalu dibeli’in orang tuaku. Artinya, waktu itu aku tidak bisa memilih warna apa. Jadi pertimbangan fungsional lebih diutamakan (Huh, sok banget, masih kecil udah mikir fungsional apa gak hahaha…).

Walaupun saat itu merek kancut hanya itu-itu aja, tapi rasanya jadi anak paling keren dengan kancut putih itu. Tak heran, setiap punya kancut putih baru aku selalu ‘pamer’ dengan berlagak menjadi Tarzan: Berdiri di atas meja memakai kancut putih baru bertelanjang dada…auuuoooooo….

Saat itu tak semua anak seberuntung aku bisa memakai kancut. Banyak teman-temanku yang sekolah tanpa kancut. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan saat naluri bocah laki-laki centil bereaksi…hiiiii… Stop, stop, stop, berhenti membayangkannya. Sudah pasti lucu dan memalukan jika ingat masa itu. Tapi begitulah adanya…

Sampai akhirnya aku bisa mengerti bagaimana kancut putih tak berumur lama. Paling lama, sekitar 1 bulan warnanya berubah jadi putih kecoklatan. Bukan karena kulit hitamku yang luntur, tapi memang itu resiko kain warna terang yang menempel pada kulit bocah kampung yang ‘pecicilan’. Aku jadi agak risih jika melihat kancut putih kebanggaanku berubah warnanya menjadi kecoklatan, apalagi jika harus memakainya.

Rupanya orang tuaku memahaminya. Beliau dengan bijak membelikan kancut berwarna gelap untuk mengganti kancut putih itu. Ini demi kelangsungan proses ekonomi alias penghematan.

Singkat cerita, beberapa waktu lalu aku membeli kancut putih. Ini menoreh sejarahku puluhan tahun yang anti kancut putih. Sebelum kupakai, aku berjanji pada diri sendiri bahwa kancut putih ini harus ‘berumur’ lebih panjang. Bolehlah warnanya sedikit berubah suatu hari nanti, tapi aku lebih melihat pada fungsi kancut itu.

Bukankah seharusnya ketika berfikir fungsional kita menjadi rasional? Seperti rakyat memilih pemimpin, seperti pemimpin memilih abdinya, seperti abdi menentukan langkahnya? Tidak peduli dia ‘berwarna’ apa, selama itu berfungsi sebagaimana mestinya pasti banyak manfaatnya. Seperti kancut putih yang kupakai ini…

Keilmuan

Derajat keilmuan adalah segalanya. Inilah yang selama ini menyelimuti hiruk pikuk pikiran manusia sedunia. Keilmuan yang mampu ciptakan apapun yang diimpikan, keilmuan yang mampu berikan apapun yang ingin diserahkan, keilmuan yang bisa matikan apa pun yang ingin dihabiskan, keilmuan yang bisa katakan apapun dari pikiran, keilmuan yang bisa apapun untuk apapun…

Disisi yang sejalan dengan itu, keilmuan buatku adalah anugerah. Menjembatani pemikiran keilmuan dengan perilaku keilmuan menjadi bagian terpenting dari tinggi rendahnya derajad keilmuan itu sendiri. Manakala ketidakseimbangan yang terjadi, tak lagi tercermin setitikpun keilmuan yang ratusan tahun digalinya…dan dia merugi…

Tapi Kau Bisu

Seringkali ketika seseorang dengan penuh cinta tertinggal di padang yang sepi dan sendiri, tubuh dan ruhnya tak lagi menyatu. Buliran kerikil terinjak kaki dekil tak lagi memberi kepedihan pada kulit kaki telanjang sekeras martil. Tapi setitik debu yang berkelebat di kedipan mata sanggup robohkan karang rapuh tak terisi di bagian dalamnya. Miris.

Demikian aku.

Panas, hujan, dingin, kering seperti satu keadaan yang tak ada bedanya buatku; semua tampak sama. Hiruk pikuk keadaan sekeliling hanya ingatkanku pada keadaan bahwa aku masih hidup dan merajai bumi. Tak pernah lebih. Sedangkan kalbuku seperti seuntai bulu lembut yang bergerak tak tentu arah dikibas angin terlembut; Demikian ringan dan rapuh.

Ketiadaanmu sudah hancurkan pikiranku dengan rapi. Kamu sadari bahwa tak perlu membuatku penuh darah untuk matikanku.  Tak perlu trisula tajam untuk mencabik hingga badanku terburai. Engkau telah piawai mencambuk seluruh harapan dan mimpiku kemudian menghelanya menuju tepian jurang tanpa dasar.  Inikah yang kau sebut cinta dan kau yakini tak bisa hilang itu? Alangkah ironisnya…

Meski hanya pikiranku yang bercerita dan pikirkanmu, tapi aku sungguh nikmati itu. Setiap dawai angin yang rasuki hidungku dengan wewangian merah jambu buai aku pada harum tubuhmu. Setiap bebunyian yang menombak telingaku bawa aku pada merdu suaramu saat berkidung untukku…di masa lalu.

Kenapa kau sisakan perih saat laju cinta ingin kita raih ujungnya? Kenapa kau sisakan sendiri saat jiwa kita telah berbagi?

Aku pahami, kau punya rasa pada apa yang aku rasa; tentang ngilu ini. Tapi kau bisu.

Bengis

Mungkin tiba pada masa mengubur semua cerita yang sungguh telah kamu hempaskan. Kubayangkan ada sedikit sisa sekalipun seujung kuku hitam hingga aku bisa torehkan rindu pada masa lalu. Tapi tak ada! Kamu begitu bengis melupa seakan ini adalah perjalanan yang tak layak kenang. Semoga sakit yang kamu berikan ini membantuku menanggalkan seluruh impianku denganmu. Seperti yang telah kamu lakukan kepadaku.