Category: Cerita Pendek


Prolog: Guen

Guan merapatkan baju tidur yang melindunginya dari dingin di pagi yang belum lagi sempurna. Sejak dini hari tadi kantuk tiba-tiba lenyap dari matanya. Ia sudah membolak-balik badannya berharap kantuk segera lelapkannya lagi hingga nanti saat matahari telah meninggi, tapi kantuk justru menjauh pergi. Di sebelahnya suaminya tertidur pulas berselimut sedada mendengkur perlahan. Guen bangkit dari peraduannya, terduduk sebentar dan berjalan menuju kursi di hadapannya. Sekilas ia sempat berkaca melihat sembab di matanya yang masih terlihat usai dia menangis semalam. Guan memandang kotak kecil berhias pita hitam-putih di atas meja kecil disebelahnya, tepat di bawah lampu meja yang baru saja dinyalakannya.

Apakah isi kotak kecil itu?

Advertisements

Surat Cinta Rahwana

Konon, sebelum tragedi penculikan Shinta,  Si Raja Alengka Dasamuka alias Rahwana pernah jatuh cinta pada  Setyorini –seorang wanita bersuami– yang tinggal di kerajaan Alengka. Tanpa sepengetahuan Indrajit –buah hatinya– Rahwana menulis surat cinta kepada wanita itu…

Setyorini,
Tak hanya perasaanmu yang bergelut dengan ketakutan itu. Aku mengalami hal yang sama; Setiap saat ketakutan kehilangan kamu menghantuiku. Seperti yang selalu aku katakan kepadamu, ketakutan itu selalu berawal ketika aku melihatmu berjalan menuju rumahmu. Bukan ketakutan pada rumahmu, tapi pada apa yang sudah terjadi di rumahmu. Bahwa kamu adalah…dia adalah…kamar itu adalah…kasur itu adalah…ah, sampai kapan pikiran itu menyiksaku?

Dan percayakah Sayangku, kepedihan itu selalu menimbulkan dua kekuatan besar yang selama ini meninju-ninju ulu hatiku: Aku harus segera mengakhirinya atau Aku harus mendapatkanmu! Dua hal yang sama-sama berat untuk kuwujudkan. Jika aku harus mengakhirinya, sama artinya aku menutup pintu yang sudah Tuhan bukakan untukku. Dan ketika aku bersikeras mendapatkanmu, aku harus berpikir dua kali. Bukan karena aku tak mampu melakukannya, tapi lebih karena rasa berdosaku menjadi penyebab sakit hati orang-orang di sekeliling kita. Aku tau, kamu pasti paham seperti apa akibatnya, siapa saja yang akan tersakiti, dsb, dsb…

Setyorini,
Bertemu dan jatuh cinta padamu sungguh hal yang sangat tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku. Selama ini aku merasa bahwa tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Gombal banget! Perasaanku sudah tak menentu sejak melihatmu. Aku tidak tau, apakah perasaanku muncul karena kehampaan yang aku alami selama kurun waktu ini atau karena kuatnya sinyal yang kau pancarkan? Yang jelas segala rasaku telah kau lilit dengan indahnya pesonamu…

Rasa jenuh yang kualami selama kurun waktu yang tidak sebentar itu sungguh sudah mendorongku keluar dari kotak yang seharusnya kujaga di setiap sisinya. Jenuh? Bukan waktu yang membuatku memilih kata “jenuh” untuk mewakili persoalan rumah tanggaku, tapi lebih pada prinsip dan visi yang sampai saat ini tak kutemukan jalan keluarnya. Hingga pada jarak tertentu dan aku menyerah: Semua sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi. Jika kutemukan kata yang lebih tepat untuk mengganti kata “jenuh” akan kuberitahukan kepadamu Sayang. Atau bantu aku menemukan kata untuk mewakili perasaan kecewa, bosan, putus asa dan marah atas sebuah perjuangan yang tak pernah berhasil…

Kekasihku Setyorini,
Apakah kamu percaya bahwa dari cinta yang sedemikian tangguh berangsur-angsur bisa menjadi dingin dan hampa? Mungkin kamu bingung karena kamu tidak pernah mengalami “cinta”. Tapi apa mau dikata, aku mengalami fase itu. Bahwa saat ini aku masih bertahan adalah karena tanggung jawab pada “buah hatiku” selain embel-embel rasa iba dan sejuta ketidakenakan pada dua keluarga yang secara tidak langsung sudah aku “nikahkan”. (Ada orang bijak bilang bahwa menikah itu bukan hanya ‘mengawinkan’ dua manusia, tetapi juga ‘mengawinkan’ dua keluarga besar!). Aku pusing sayang…mlethek sirahku!

Ketika aku bertahan seperti sekarang ini justru pihak yang paling merugi adalah aku! Tapi apalah artinya “aku” dibanding dengan “buah hatiku” dan dua keluarga besar itu?

Perbedaan antara kamu denganku mungkin bisa dilihat dari sini. Apa yang selama ini membebaniku berawal pada cinta yang mengesampingkan prinsip dan visi. Sementara kamu mengalami sebaliknya, prinsip dan visi yang menisbikan cinta. Entahlah, lebih beruntung aku atau kamu dalam hal ini. Aku tidak mau menghakimi. Toh, semuanya sudah berjalan seperti yang digariskan…

Setyorini,
Seperti yang sudah aku bilang kepadamu. Semakin bertambahnya hari, justru perasaan sayang dan cintaku kepadamu makin meninggi. Rasa takut kehilanganmu bahkan sudah menyentuh langit-langit akal sehatku (paling tidak untuk saat ini). Jika kubilang bahwa aku tidak rela kamu pulang ke rumahmu apakah masuk akal? Apakah realistis jika kubilang bahwa aku ingin kamu dalam pelukanku setiap aku membuka mata di pagi hari?

Sayangku….
Kalaupun ini berakhir suatu hari nanti, percayalah, bahwa aku tak akan melupakan apa yang telah terjadi antara kita. Kamu adalah satu hal terindah dalam perjalanan hidupku. Kamu-lah yang telah memberi api pada lentera kepalaku yang hampir saja padam…

Terima kasih atas cinta yang indah ini, Sayang (semoga tak pernah berakhir)…

I love you somuch
Rahwana

Bang Nol

I

Rambutnya gondrong liar, matanya merah gelap sorotnya tajam seperti hendak merobek setiap biji mata yang beradu pandang dengannya. Mukanya hitam kusam seperti pantat panci berjelaga, berminyak dan kasar. Bengis. Anting paku bertengger di kedua kupingnya, sedangkan kalung rantai emas imitasi segede selang air melingkar di lehernya.

Orang di terminal ini biasa memanggilnya Bang Nol. Preman yang menguasai terminal yang kotor dan kumuh ini. Semua memberi tabik kepadanya, tak peduli itu pedagang asongan, sopir angkot, sopir bis, kondektur, pengamen. Bahkan satuan pengaman terminal tak bernyali membuat perkara dengannya. Sementara para penumpang yang kebetulan berada di terminal itu tak sedetikpun berani beradu pandang dengan Bang Nol. Mereka pura-pura tak melihat atau berjalan cepat melewatinya sambil mendekap barang bawaannya.

Konon dulu Bang Nol pernah dipenjara gara-gara menghajar seorang kondektur hingga mati karena tak membayar ‘jatah keamanan’. Gosip itu berkembang dari mulut ke mulut dengan bumbu-bumbu yang makin membuat Bang Nol ditakuti seantero terminal. Ada yang bilang Bang Nol punya ilmu kebal dan tak segan-segan membunuh orang yang berani melawannya. Masih dari cerita orang-orang di terminal ini, minggu lalu Bang Nol menghajar tiga orang pangamen sekaligus hingga sekarat karena beroperasi di wilayahnya tanpa permisi. Entahlah…

Setiap melewati terminal ini iseng-iseng aku mencuri pandang ke arah Bang Nol berada. Biasanya Bang Nol yang duduk dengan kaki nangkring di warung di bawah pohon cemara dengan asap rokok yang menutupi mukanya. Aku masih bisa melihat tato-tato kuno yang mulai buram di sekujur lengan dan lehernya. Benar-benar mengerikan!

 

II

Beberapa hari ini aku tidak mendapati Bang Nol di tempat biasa. Iseng-iseng aku bertanya pada seorang pengamen seruling yang kebetulan berada di samping mikroletku (yang setiap hari menjadi mesin kerjaku untuk menghidupi anak istri).

Be, tumben beberapa hari Bang Nol gak keliatan, kemane die?”

“Tau deh, denger-denger sih dia ‘masuk’ lagi gara-gara mukulin sopir minggu lalu,” jawabnya.

Dipenjara lagi? Aku merinding. Gila! Bang Nol memang gak ada rasa takutnya, pikirku. Penjara bukan lagi tempat yang bisa membuatnya jera. Preman tulen, pujiku dalam hati.

 

III

Pagi ini aku tidak narik angkot karena harus mengantar istri dan anakku yang baru berumur 5 bulan ke puskesmas untuk imunisasi. Baru siang nanti aku kembali lagi ke terminal untuk nyopir lagi sampai malam. Lumayan, walaupun setengah hari aku masih punya penghasilan untuk hari ini.

Saat menunggu antrian tiba-tiba aku mendengar suara wanita tengah mengomel gak karuan dari bangku pojok di belakangku. Otomatis semua mata memperhatikannya.

Elu ye, laki-laki brengsek, cari kerja kek yang bener. Tiap hari cuma nongkrong,” hardik wanita itu sambil melotot ke arah laki-laki gondrong seperti…mmm…itu kan Bang Nol!

“Udah deh Neng, udah, iye, iye nanti kalo sembuh abang cari kerja deh. Malu neng, malu diliatin banyak orang,” bela Bang Nol tanpa melihat sekelilingnya.

“Malu, malu. Elu tuh yang harusnya malu, istri kerja kaya babu ngurusin anak, ngurusin rumah, elu tiap hari kerjaannya minggat mulu pulang malem. Mau dikasih makan apa si Entong? Elu sakit udah dikerokin bukannya istirahat biar cepet sembuh terus bisa cari kerja, ee, malah nonkrong lagi di terminal. Elu lagi jatuh cinta ama jande itu tu si Markonah? Elu tau aja barang die masih seger, gue udah bangkotan lu tinggalin. Pas giliran sekarat aja lu balik lagi ke gue!” Istri Bang Nol makin nyinyir dan tak peduli dengan orang-orang memperhatikannya. Aku melihat muka Bang Nol yang hitam legam memerah menahan malu. Bang Nol tertunduk.

Aku tersenyum dalam hati. Jika saja puskesmas ini adalah terminal dan wanita yang masih saja mengomel itu adalah laki-laki di terminal, pasti sudah dihajar tinju Bang Nol hingga sekarat! Alangkah bedanya sisi seseorang di permukaan dan di dalam hatinya. Tubuh yang sangar dan membuat mengkeret setiap mental di terminal tiba-tiba menjadi pribadi yang kecil dihadapan istrinya, terlepas dari persoalan yang dihadapi.

Semoga besok Bang Nol berubah, menjadi pribadi yang menentramkan, baik di terminal atau dimana saja. Kalau tidak, biar aku laporkan pada istrinya hahaha…

Lie Tsu Sie (1)

Lie Tsu Sie mengibaskan rambutnya yang hitam sebahu. Anak rambut yang lembut di keningnya ikut bergerak terhapus lengan bajunya. Ujung hidung dan pipinya memerah merespon dinginnya udara di negeri China. Dari tempatnya beristirahat, Lie Tsu Sie bisa melihat keindahan kampung kelahirannya: Rumah-rumah, klenteng, aliran sungai Yangtze dan pohon-pohon bambu.

Sekitar 12 tahun Lie Tsu Sie  melewati masa kecilnya di kampung itu. Hidup sebagai anak tertua dari 5 bersaudara membuatnya harus berpikir lebih dewasa. Dia harus bisa menjadi orang tua bagi adik-adiknya saat ayahnya bekerja di sawah dan ibunya menjadi buruh pabrik korek api. Menanak nasi, membersihakan rumah, mencuci baju adalah pekerjaan harian yang tidak pernah ia lewatkan.

Sore, saat matahari hampir tak terlihat, dia selalu mambuatkan teh dan menyiapkan makanan untuk ayah dan ibunya. Panci berisi air selalu ia sediakan di depan pintu untuk ayah dan ibunya mencuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Pabrik tempat ibunya bekerja letaknya lebih jauh dari sawah dimana ayahnya berlumpur.  Jadi ayah selalu menunggu ibu di pinggir sawah untuk pulang bersama.

Sebenarnya Lie Tsu Sie tidak tega melihat kedua orang tuanya bekerja sekeras itu, tapi dia tidak bisa mencegahnya. Karena ada banyak mulut yang harus makan. Maka membersihkan rumah serta mengurus adik-adiknya adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya untuk membantu orang tuanya.

Hingga suatu hari sebuah keputusan terberat dalam hidup Lie Tsu Sie harus diambil. Keputusan untuk meringankan beban orang tuanya sekaligus meninggalkan adik-adiknya.  Malam itu, ketika matanya hampir saja terpejam, ibunya membangunkan pelan sambil menaruh jari telunjuknya tegak lurus di mulut.

“Lie, bangunlah, ada yang ingin kami bicarakan.”

Lie Tsu Sie membuka matanya.  Sedikit terheran-heran dia mengikuti ibunya berjalan menuju ruang depan, dimana ayahnya sudah duduk menunggu.

“Duduklah Lie,” kata ayahnya. Ibunya mengambilkan secangkir teh untuk Lie Tsu Sie. Ini kali pertama ibunya melayaninya seperti itu hingga membuat Lie Tsu Sie makin terheran-heran (bersambung)

Janji Dengan Tuhan

Malam baru saja datang. Senja yang baru saja hiasi langit dengan mendung kemerahan beranjak dari sudut mataku. Sisa gerimis di bebatuan dengan rumput kecil basah pantulkan aroma tanah yang lembut ke paru-paruku. Aku pejamkan mata, seperti hendak usir puluhan kelelahan yang aku alami hari ini.

Di hadapanku seperti bayangan, seorang wanita cantik berambut lurus berpipi oval menikmati hulu malam dengan gaya yang sama. (Kecantikannya ingatkanku pada sahabatku kecilku yang entah kini berada di mana). Sesekali aku mencuri lihat ke arahnya. Pasmina putih yang menutupi sebagian pundaknya berkibar perlahan setiap dia menatap ke langit sambil menghirup wangi tanah. Aiiihhh cantiknya…

Aku masih terpancang pada keindahan wanita di hadapanku ketika aku menangkap jejak air mata membekas di kedua pipinya. Segera kubuang pandangan mataku pada rumput hijau basah di sekelilingku. Aku tak sanggup….aku tak sanggup melihat wanita menangis. Pada keindahan seperti itu, kenapa masih diciptakan air mata untuk kesedihannya? Semoga itu adalah air mata atas kegembiraannya…

Di bimbang rasa tak kuasa melihat air mata, aku hantarkan tubuhku pada sisi kanannya, tepat di sudut bebatuan. Sekelebat angin sertakan wangi tubuhnya pada pikiranku yang lunglai menilai kata pertama yang harus aku buka.

“Kenapa engkau menangis?”

Wanita itu melihatku dengan mata sembab. Aku terhenyak. Matanya membias melukis sepercik air di tiap kelopaknya. kecantikannya tak luruh karena tangisan itu. Sekilas kulihat sebuah gelang hitam di lengannya yang menjuntai putih bersih berbulu lembut. Berkali-kali jemarinya meremas gelang hitam itu, seperti hendak menghancurkannya menjadi debu dan membebaskan lengannya yang memerah tertindas gelang hitam itu.

“Aku ingin menari. Aku ingin menari. Aku ingin melepaskan pikiranku pada tarianku,” jawabnya gusar. Tanganya tak henti berusaha lepaskan gelang hitam yang makin basah oleh semburat air matanya.

“Lalu kenapa tak segera engkau menari?”

“Aku sudah berjanji pada Tuhan,”

“Pada Tuhan? Janji apa yang engkau berikan?”

“Aku berjanji tak akan menari jika gelang ini masih bertengger di lenganku,” katanya lirih. Kemudian wanita cantik itu menunduk. Kali ini aku dengar isaknya dengan jelas. Kesedihan yang bisa kuukur sedalam apa. Kepedihan yang bisa kuterawang sejauh mana. Tak ada wanita yang relakan air matanya membanjir hanya karena persoalan yang dangkal. Dan menari bukanlah hal yang dangkal.

Aku berpikir, bahwa Tuhan terlalu bijaksana untuk mengingat janji duniawi yang tak berurusan langsung dengan-Nya. Tuhan mengerti bahwa pencapaian ketenangan hatilah yang akan hantar seseorang pada pemenuhan janjinya. Bukan karena sebuah gelang hitam. Tapi itu masih pikiranku. Entahlah sesungguhnya. Tuhan lebih tau…

Tak ada kata yang aku ucapkan. Spontan kuraih pundaknya, kupapah dia berdiri di depan dadaku. Kepalanya tetap tertunduk. Kubentang tangannya sambil menuntunnya bergerak perlahan. Menari! Lamat-lamat kumainkan suara gamelan dengan mulutku di telinganya. Berharap malam ini suara tetabuhan yang aku dengungkan bisa curahkan semangat buatnya menari.

Wanita cantik itu kurasa semakin berat. Dan sedetik kemudian dia luruh di hadapanku. Terkulai tak bergerak. Matanya terpejam dan sisakan kelopak basah di sudutnya. Di lengannya gelang hitam itu masih menghias.

Terbakar Prasangka

Aku tak mampu lagi berkata, semua bukti telah menunjukkan kedekatanku dengan seseorang. Sejak pagi tadi, satu-satunya kalimat  yang aku terima (dan terakhir) hanya cerita tentang kecemburuan itu. Meski terucap dengan kalimat retoris yang santun dan runut, tetap saja aku rasakan kemarahan dalam getar suaranya.

Aku sengaja tak membabi buta mengklarifikasi praduga bersalah yang ditujukan kepadaku itu. Bukan aku mau mengamini tuduhan itu, tapi karena aku ingin memberi jeda pada emosinya yang meledak-ledak dan tak terkontrol itu. Aku maklum, bukankah wajar seseorang memperjuangan apa yang seharusnya menjadi miliknya? Aku tau, saat emosi, logika cenderung berada di bawah pantat.

“Sayang, aku mencintaimu. Sampai saat ini aku masih merasa hanya kamu yang bisa membuatku rasakan ketenangan,” kataku setelah sekian lama kita tak saling menyapa. Aku melihat waktu yang tepat untuk segera meluruskan kesalahpahaman itu, yaitu sore ini. Tapi tak satupun balasan aku terima dari bibirnya yang dingin. Lagi-lagi kemaklumanku yang tak berbatas ini menerimanya. Mungkin dia masih miliki prasangka itu di kepalanya, pikirku. Artinya, dia butuh waktu lebih lama lagi untuk redakan itu.

Hening berjam-jam hingga malam menjelang.

“Doaku adalah hantarkanmu pada pencarian pemenuhan hidup, bukan julurkanmu pada sengsaranya. Apakah tak kamu sadari setiap detik yang aku lakukan adalah tinggikan namamu pada tangan Ke-Esaan agar engkau kuat dan hebat?”

Aku terdiam. Sepenuhnya aku tahu itu. Aku hanya tengah mencari pintu untuk mengetuk jendela hatinya pada waktu yang tepat. –tentu tanpa maksud memutihkanku atas kekhilafan ini. Bukan itu! Buatku, membaca waktu dan kemudian merasukinya di saat yang benar jauh lebih baik dan efisien. Tak banyak suara terbuang, tak banyak tenaga tersia.

“Aku milikmu. Segala apa yang terjadi di kiri-kananku tak akan kikis sedikitpun perasaanku buatmu. Jadi aku mohon pengertianmu. Aku mengaku salah telah tempatkan hal yang tidak semestinya dalam hidup yang kita jalani ini. Tapi percayalah, itu khilaf. Jadi maafkanlah. Beri aku waktu benahi dan buktikan itu,” jelasku.

Dia terdiam. Seperti tengah berbicara dengan bagian tubuhnya yang lain untuk memproses kalimat panjangku.

Aku pandangi matanya yang menatapku dengan amarah menganga.  Aku ingin aliri dia dengan logika pembelaanku agar dia pahami semua persoalan ini. Toh, semestinya kita sudah lalui sengketa seperti ini bertahun-tahun yang lalu. Aku hanya ingin buktikan itu. Yang kuperlu hanya waktu dan cintamu…

Uang Lima Ribuan

Angin berasa agak laju siang itu. Apalagi di tempat yang agak tinggi seperti di jembatan Trans Jakarta. Niatku adalah membelah kemacetan Jakarta di sore hari menumpang raja jalanan paling bongsor: Trans Jakarta (Orang biasa menyebutnya Busway). Jarak yang akan aku tempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi ini Jakarta Jek, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh.

Langkah santai kuayun menuju loket sambil berusaha mengeluarkan uang yang aku taruh di saku kiri belakang celana jeansku (aku tidak terbiasa menaruh uang di dompet). Kudapati tujuh lembar uang ribuan, satu sepuluh ribuan dan dua lembar lima ribuan, ketika tiba-tiba…

“Wussss….”

Uang kertasku berhamburan tertiup angin. Sigap dan cekatan kuraih satu demi satu uang-uang itu. Bak pangeran kodok kedua kakiku sibuk mengincar uang kertas itu supaya tak berterbangan ke bawah jembatan. Tak peduli petugas halte Trans Jakarta yang senyum-senyum melihatku. Berhasil, terseok-seok kupungut satu demi satu uang kertas itu. Lalu kurapikan sambil kuhitung.

“Satu, Dua, Tiga…mmm…mmm…kurang satu lembar lima ribuan!!!”

Mataku melotot, mulutku manyun memeriksa sepanjang jalur jembatan. Sampai akhirnya aku melongok ke bawah jembatan. Selembar lima ribuanku yang masih agak baru tergolek di jalur Trans Jakarta. Sesekali uang itu berpindah tempat karena tertiup angin kendaraan-kendaraan besar yang lewat. Aku bingung, ingin rasanya melompati pagar dan memungut uang lima ribuan itu. Sayang kan kalo hilang. Tapi urung, karena masih agak tinggi dan dijamin ribet sumrepet kesrimpet kalau kupaksa mengambil kembali uang itu.

Mataku nanar melihat uang itu dipermainkan angin. Sayang sekali, lebih baik uang itu aku sumbangkan ke Masjid atau kutitipkan untuk membantu korban perang di Palestina, atau kuberikan kepada siapapun yang memerlukan. Andai saja uang itu masih ada…

Gubrak! Gubrak! Tuing! Tuing!

Tiba-tiba otak sintingku digilas sisi akal sehatku dengan sadis. Katanya…

“Woiiiii! Kamu gak bisa berpikir waras ya Die?, ” Asli aku kaget setengah mati. Bagian jiwaku yang sudah lama aku ikat di penjara alam sadarku langsung muncul dan mencak-mencak di mukaku.

“Sekalinya uangmu terbang dan menghilang, kamu menyesal dan berpikir untuk memberikannya kepada orang yang membutuhkan. Kenapa tidak dari tadi? Kenapa tidak kau berikan ketika uangmu belum hilang? Kenapa tidak kau ikhlaskan sebelum angin menerbangkannya?”

Glek! aku malu…

“Die, kamu sungguh keterlaluan. Kenapa harus kehilangan dulu untuk ingatkanmu pada orang yang membutuhkanmu? Apakah kamu harus kehilangan nyawamu dahulu untuk sadari bahwa ada kebaikan yang bisa kau lakukan selagi nyawamu masih di pundakmu?”

Aku terdiam. Sungguh tak mampu aku melawan kata-katanya yang begitu lugas dan nylekit. Aku masih rasakan angin agak kencang menampar wajahku ketika…

“Plekkk!”

Selembar kertas menutup hidung dan pipiku. Uang lima ribuanku yang tadi tertiup angin kini dengan cara ajaib kembali ke tanganku. Ah, alangkah senang hatiku. Tapi aku sudah bertekad memberikan lima ribuan ini kepada orang yang membutuhkan, kepada pengemis kecil yang tadi kulihat di ujung jembatan. Tapi aku tidak menemukannya. Jembatan telah sepi dan gelap. Tak satupun orang terlihat di jembatan maupun halte. Kiri-kananku lengang, hampir tak ada kendaraan melintas.

Monyet

Beberapa hari ini aku memikirkan tentang sebuah pertalian. Pertalian antara sekumpulan monyet yang dalam banyak waktu selalu dipertemukan pada pohon yang sama. Karakter yang berbeda-beda justru menjadikan satu pohon itu tempat yang sangat menyenangkan: akrab dan guyup. Bertahun-tahun pohon itu menjadi saksi datang dan perginya monyet-monyet di dahannya.

Dalam beberapa bulan ini monyet-monyet baru datang menempati dahan-dahan yang ditinggalkan oleh monyet-monyet tua. Rata-rata mereka berasal dari daerah lain yang ingin perpindah ke pohon besar dan berbuah lebat ini. Mungkin hanya di dunia nyata, pendatang baru menjadi minoritas dan tertindas secara mental. Secuilpun intimidasi tidak berlaku di dunia monyet.

Semua penghuni baru disambut dengan gembira. Bahkan tak segan langsung dilibatkan pada acara-acara menyenangkan seperti berburu kutu! Biasanya acara berburu kutu hanya melibatkan keluarga, paling banter hanya melibatkan monyet-monyet yang sudah tahunan menempati suatu pohon. Mungkin itu yang membuat sekumpulan monyet di pohon lain bertanya-tanya; Apakah monyet bangkotan tak lagi punya wibawa? Apakah monyet pendahulu begitu kekurangan teman? Atau jangan-jangan beberapa monyet tua di pohon itu tergiur pada seksualitas belaka, pikir mereka.

Sekumpulan monyet tua rupanya mengerti ada pikiran buruk melintasi para monyet di pohon-ponon sekelilingnya. Mereka itu menyadari bahwa sedikit demi sedikit para monyet di pohon sekelilingya perlahan meninggalkannya. Entah karena sakit hati disebabkan seribu alasan dan prasangka, atau memang enggan menemani monyet-monyet tua beranak pinak hingga ajal.

Pohon semakin tinggi, akarnya semakin kuat melesak ke dalam bumi. Buah dan dahan tumbuh seperti jalinan tangan yang saling menopang. Cinta dan kasih sayang tak pernah meninggalkan pohon yang dialiri ketulusan dan timbunan kasih sayang itu. Monyet-monyet itu selalu gembira, karena cinta telah kalahkan ego dan prasangka yang tak berguna. Pertalian yang sungguh indah. Pertalian monyet, monyet, monyet dan pohon…

Sang Maharaja

“Ayah kerja dulu ya Sayang. Kakak ama Dek Keyzha, nanti mau diajak ke pasar malam lho sama Pakde,” rayuku sambil membelai rambut kriting sepinggang anak perempuanku yang merajuk di pelukanku.

“Gak mau, pokoknya Kakak ikut. Kalau kerja pasti ayah lama. Kakak maunya sama ayah,” isaknya.

Alangkah maharajanya uang. Kadang uang menjadi setan bertanduk yang menciptakan kesedihan tanpa daya. Dan satu anak sumber inspirasiku menangis dibuatnya. Aku dan seluruh egoku tak kenal waktu memburu uang. Sekalipun demi anak-anakku dan keluargaku, tetap saja ini menjadi bentuk penghambaan atas materi. Ada susu yang harus terbeli, ada sekolah yang harus terbayar, ada proses hidup yang harus berjalan.

Sayangnya, pada proses kerja yang aku lakukan, uang selalu berbanding terbalik dengan waktu kebersamaanku dalam keluarga. Tiada batas kapan pencapaian materi itu akan terhenti. Apakah artinya tiada batas pula kapan waktu untukku dan keluargaku bersatu?

Wahai uang sang maharaja, sebenarnya berlebihan sebutan itu buatmu. Kalau engkau sadari, aku tak menghamba padamu. Engkau hanyalah sarana untuk wujudkan keindahan harapanku pada keluargaku. Utamanya pada anak-anakku yang masih doyan susu. Mereka tak harus tau bagaimana aku mencarimu, karena itu berupah pada wibawa dan kecintaan mereka kepadaku.

“Tapi bener ya ayah pulang sore, kakak mau sama ayah,”

“Iya Sayang, kalau kerjaan ayah cepat selesai, ayah pasti cepet pulang,” kataku sambil mencium keningnya dan berlalu. Ada perasaan sedih yang mendalam meninggalkannya dengan mata masih sembab.

Jujur, selama ini merekalah yang menenangkan hatiku. Mereka menjadi batasan kesabaran yang luar biasa untuk tidak memaki atau menonjok atasan, klien atau partnerku saat mereka sudah melewati batas toleransi ketololan yang aku berikan. Merekalah akal sehatku.

Jadi semua tak semata-mata karena sang maharaja uang…

—-

Ada saatnya kita merasa dianggap benar-benar orang tolol, diremehkan –dan hal merendahkan lainnya– oleh orang lain. Pernah alami itu? Itu yang dianggap sebagai batasan emosi penulis cerita ini. Dalam cerpen ini, memang 80% fiksi sementara 120%-nya adalah ungkapan perasaan penulis. Selebihnya adalah kompilasi seribu pemikiran.

Hari ini Setahun Lalu

Berdua denganmu dan menikmati indahnya cinta adalah satu hal terindah dalam hidupku. Mungkin orang akan berpikir kalimat itu terlalu dibuat-buat, terlalu melankolis atau terlalu ‘melambai’. Aku tidak peduli, karena itulah kalimat yang pantas dan layak aku tuliskan/ucapkan untuk mengatakan apa yang terasa di dalam hati dan pikiranku saat bersamamu waktu itu.

Sepanjang hari itu tak henti aku memelukmu, menciumu dan menggenggam tanganmu, seolah tak ingin sesuatupun beri jarak antara kita. Harum tubuhmu dan kelembutan kulitmu seperti sudah menyatu dengan keadaanku yang terbuai mimpi tiada henti. Bahkan saat engkau terbaring di hadapanku tak kuasa satupun berkehendak selain ingin memberimu cinta yang membesar dari dalam hati.

Hingga beberapa jam kemudian terompet tahun baru bersahutan. Gerimis tak aku hiraukan. Matamu dan mataku berkeliling memandang riuh kembang api dari sebuah sebuah tempat tertinggi. Tapi aku tau, saat itu sebenarnya hati kita sedang bertanya; Akan kemana arah kita?