Category: Catatan Semu


Bertemu Kawan Lalu

Hari ini aku bertemu beberapa sahabat lamaku yang lama tak kujumpa. Yang kusuka adalah kehangatan mereka yang tak pernah layu. Serasa tetap menjadi bagian dari sebuah pelukan kekerabatan sekalipun waktu selalu pisahkanku.

Kisah Pria Paruh Baya

Hujan deras tadi pagi mempertemukanku dengan seorang pria paruh baya di sebuah warung kopi. Perawakannya tidak terlalu tinggi, tapi terlihat gurat ketegasan di wajah dan telapak tangannya.

Setelah saling menanyakan hal-hal kecil yang tidak begitu penting (kerja dimana, sudah berkeluarga atau belum, rumah dimana, dsb) tanpa sadar alur pembicaraan mengarah ke cerita tentang hidupnya.

Sebuah kecelakaan menimpanya sepulang ‘nyekar’ keluarganya di salah satu kota di Jawa Tengah. Bus yang ditumpanginya menghantam sebuah truk yang parkir di kanan jalan di shubuh naas itu. Sopir dan 3 penumpang di bagian depan tewas mengenaskan. Sementara Pria paruh baya itu terjepit di bagian bawah tubuhnya. Tulang kaki kananya remuk, bahkan telapak kakinya tertinggal di dalam bus saat evakuasi.

Dengan sedih dia bercerita, bagaimana dia tidak merasakan sakit apapun karena –menurut istrinya– dia koma selama 1 bulan lebih. Saat sadar kaki kanannya sudah diamputasi hingga di atas lutut.

Cerita yang membuatku iba di pagi hujan itu. Perasaan itu makin mendalam tak kala dia bercerita bagaimana beberapa kerabat yang membantunya justru menikamnya dari belakang. Dana asuransi yang dia terima ludes dikelola saudaranya. Bahkan sisa pengobatan di rumah sakit hampir 40jt tidak terbayarkan. Malangnya… Padahal nilai asuransi yang diterimanya hampir 2 kali lipat dari biaya rumah sakit itu.

Dibalik penyesalan atas sikap saudaranya itu, lelaki paruh baya di depanku tetap semangat melanjutkan hidupnya menafkahi istri dan dua anaknya yang masih kecil. Dan juga membayar cicilan kaki palsu yang dipakainya (Aku sempat melihat kaki kanan palsunya yang masih berwujud besi. Hanya bagian telapak kaki yang terbuat dari kayu dan sudah dilapisi karet. Jika sudah lunas, semuanya akan dilapisi karet hingga menyerupai kaki kirinya yang masih normal. Kurang enam juta lagi, katanya).

Pekerjaan apapun dilakukannya, membangun rumah, memasang ubin dan sebagainya. Sedikitpun tak ada bahasa tubuh atau tutur katanya yang berharap pada belas kasih dari orang lain.

Cerita berakhir ketika hujan mulai reda. Sedikit tertatih dia berjalan meninggalkan aku.

Semoga engkau dan keluargamu diberi kekuatan dan rezeki berlimpah, Pak. Amin.

Pantang Menyerah?

Rasa ‘pantang menyerah’ atas usaha yang dijalani adalah anugerah hebat jika dimiliki. Semangat menggebu laksana bisa melumerkan sebuah batu menjadi segenggam debu. Apalagi jika semangat itu bertengger atas alasan mempertahankan kehidupan yang tak ingin terputus di bumi ini.

Jadi jangan heran jika melihat semangat pantang menyerah Petugas Kebersihan yang rela menghirup aroma sampah membusuk dan tanpa ragu memungut dan membersihkannya. Atau semangat pantang menyerah seorang pengasong alat tulis yang naik turun metromini di perempatan sekalipun belum tentu laku besar dalam sehari. Atau mungkin juga semangat pantang menyerah seorang ibu penjual jamu gendong yang berjalan kaki keliling kota mencari pembeli segelas-dua gelas jamu ramuannya. Dan banyak lagi…

Dengan logika terbalik mungkin kita bisa sadari bahwa siapapun pasti mempunyai rasa pantang menyerah dalam hidupnya. Pantang menyerah seperti sebuah keharusan untuk tetap survive mempertahankan sesuatu yang kita yakini.

Mungkin kita pantang menyerah membuang sampah sembarangan sekalipun larangan dan himbauan tertulis dimana-mana. Mungkin juga kita pantang menyerah mengumpat seorang pedagang asongan yang memaksa masuk di metromini penuh sesak dan panas di satu hari. Atau mungkin juga kita pantang menyerah meneriaki tanpa santun seorang ibu penjual jamu yang tak mendengar panggilan saat kita butuh jamunya. Dan seterusnya…

Apakah benar semua itu berarti ‘pantang menyerah’?

Raksasa Kerdil

Duduk sendiri, kutembus kaca di depanku yang menghadap jalan hiruk pikuk di jam pulang kantor. Segelas besar ice green tea bersisa bongkahan kecil beberapa batu es perlahan cair dan tinggalkan genangan melingkar di alas gelas. Kutitipkan kepenatanku pada tetesan uap air di sepinggiran gelas itu untuk mengalir, menguap lalu hilang. Gontai kuambil sebuah majalah lawas dari rak kayu tak jauh dari tempatku duduk. Kubolak-balik lembarannya sampai terhenti pada sebuah rubrik fiksi berjudul ‘Raksasa Kerdil’:

…Terus terang bayangan raksasa kerdil itu masih saja mengambil alih sebagian pikiranku beberapa hari ini. Raksasa kerdil yang selalu memandang bumi pada pilahan derajat. Raksasa kerdil yang selalu menilai dirinya adalah pengimbang tata surya. Raksasa kerdil yang meletakkan segala kebenaran di sekelilingnya adalah absurd. Raksasa kerdil yang menutup mata, hati dan pikirannya dengan segala prasangka. Raksasa kerdil yang menduplikasi hantu yang paling ditakutinya…

Konon sebelum menjadi seperti sekarang ini, raksasa kerdil itu adalah seorang manusia yang memiliki rasa hormat terhadap orang lain, tak sekalipun pernah merendahkan orang-orang di sekelilingnya. Tak pernah terbersit sedikitpun mengolah kata atau mengumbar prasangka terhadap apapun yang dialaminya. Intinya, dia adalah manusia yang penuh cinta kasih. Sampai keadaan duniawi yang menghimpit mengikis nuraninya, menggerogoti jiwa-jiwa putihnya hingga dia melupa dan menjelma menjadi seorang raksasa kerdil.

Aku menghentikan sejenak mataku dari majalah yang kupegang. Seorang wanita cantik menyapaku dan menawariku bungkusan rokok sambil tersenyum akrab. “Maaf, saya tidak merokok, terima kasih.” tolakku halus.

…Raksasa kerdil itu kini tinggal sendiri di hutan lebat. Satu-satunya teman adalah prasangkanya. (tamat)

Lintang dan Langit

Beberapa hari ini aku amati Langit –si kecil badung–. Ia ingin melakukan semuanya sendiri, mulai dari gosok gigi, pakai bedak, minyak telon, pakai celana sampai pakai baju. Walaupun akhirnya bedak berantakan di lantai dan celana tidak rapi terpakai, aku tetap kagum atas usahanya. Untuk keberhasilannya itu, aku selalu bertepuk tangan untuk Langit, anakku yang sudah berumur 2 tahun 5 bulan itu. Dia akan nyengir bangga tanda puas.

Inilah masa yang tidak ingin aku lewatkan; menyaksikan 2 boneka kecilku tumbuh memungut kepintaran-kepintaran manusia dari hidup sehari-hari. Apa jadinya jika pekerjaan yang sejatinya untuk menafkahi mereka justru menjauhkan kita dari kebahagiaan berada di momen ini? Semoga tidak terjadi (lagi) padaku!

Lintang –si sulung manja– tumbuh menjadi gadis mungil yang kritis, terutama saat mengingatkanku pada jam pulang kantor dan hari libur. Sore hari, menjelang jam pulang kerja, tiap 15 menit HP-ku berbunyi…

“Ayah pulangnya jangan malam-malam,”

“Iya, sayang, ayah gak malam-malam kok pulangnya,” jawabku menenangkannya.

“Ayah sampai rumah harus jam delapan, gak boleh jam sepuluh, gak boleh jam sembilan!” imbuhnya.

“Iya sayang, telat dikit gak apa-apa ya, kan macet…” belaku, karena aku tidak yakin bisa sampai rumah kurang dari jam sembilan setiap harinya.

“Ah, ayah gak serius, pokoknya 100% ayah jam 8 udah di rumah!”

“Iya sayang. Ya udah, ayah kerja dulu ya biar cepet selesai. Kalau ditelpon mulu kerjaan ayah malah jadi lama selesainya.”

Telponpun ditutup setelah mengucapkan salam. Sebentar kemudian biasanya ada SMS masuk, yang isinya selalu membuatku geli: ayah tapi cepet ya, bener lho jam 8. Hahaha…

Sekali lagi, inilah momen terindah yang aku maksud, yang tidak akan terulang di kehidupan kapanpun. Menikmati tingkah polah anak-anak yang sekalipun kadang memancing emosi tapi di saat bersamaan justru akan mengubahnya menjadi rasa cinta dan sayang yang tak pernah terhenti. Bahwa anak merubah dunia harus diakui…

Langit masih berusaha memakai kaosnya sendiri. Berarti sudah setengah jam Langit berusaha. Lubang untuk lengan dimasukkan ke kepala, sedangkan lubang untuk kepala dimasuki kedua tangannya. Aku tak berusaha membantu, karena dia pasti menolaknya…

“Adek aja, adek aja. Adek patek baju ndili…” rengeknya selalu tiap dibantu.

Aku akui, dibanding Lintang, Langit lebih dini ingin melakukan semuanya sendiri. Mungkin karena Langit sudah belajar dari kakaknya lebih dulu, tak perlu menunggu pengajaran dari Taman Bermain atau Taman Kanak-kanak.

Inilah kehidupan yang bisa dinikmati. Melihat anak-anak sehat dan gembira.

Maka hanya orang sinting yang mengatakan bahwa keluarga harus dikalahkan untuk pekerjaan!

Sepatuku

Pfff! Aku masih rasakan lelah kakiku malam ini usai menyusuri malam sendirian. Aku biarkan sepatu dan kaus kakiku berserakan dilantai. Enggan rasanya membuang waktu memindahkan barang-barang itu ke tempat yang lebih layak. Aku ingin menikmati segar dan bebasnya telapak kakiku dari sepatu yang telah lama melingkupi kakiku.

Layaknya hari-heri sebelumnya, beban masih saja bertengger di kedua pundakku. Beban yang kadang lebih berat dari yang aku mampu dan kadang serasa hilang entah kemana. Bukankah hidup tidak wajar jika tak ada beban yang harus dipikul? Karenanya aku menerima beban itu sebagaimana harus aku emban.

Beban itulah yang membuat tubuhku makin berat dan memaksa kedua kakiku menopang sarat yang tiada kira. Ujung-ujungnya, sepatuku seperti penjara yang meremas kebebasan kakiku. Tapi karena alasan etika dan keindahan, aku harus menahan sekian lama sesaknya ia mencengkeram kakiku.

Aku harus bebaskan kakiku. Aku harus bebaskan sepatuku.

Walaupun bau!

Juni Abu-Abu

Seharusnya ribuan cerita berputar di Juni ini. Tapi pikiran blingsatan yang menggila menggilasku. Berakhir seperti jejak roda pada ceceran lumpur yang memanjang dan dalam.

Aku hanya berlalu. Tak kuasa memburu.

Menikmati Sakit Hati

Di sepi masih saja namamu yang lenakanku pada buaian mimpi. Entah kenapa. Sepertinya ini kesengajaan yang kamu lakukan untuk tetap hidupkan lentera kecil yang nyalanya justru pernah ingin kau padamkan. Mungkin juga ini keburuksangkaanku kepadamu yang tak lagi inginkan aku kitari kiri kananmu.

Aku sadar bahwa tidak berbekas lagi semua rindu yang sempat tumpah melimpah. Seperti jejak kaki di pasir yang samar dan hilang ditelan tak lebih dari 2 sapuan ombak. Begitu mudahkah semua itu, sementara aku sibuk menata hati, membaris pikiran dengan sejuta usaha yang buatku –terlihat– tegar demi satu romantisme? Konyol!

Tapi bisa apa aku?

… The clock keeps tickin’ and I keep on thinkin’ ’bout you
I’m knockin’ at the door of your heart but I can’t break through…

Sempat berasa sakit di ulu hati didera cerita bengis yang tersaji

…Now she’s gone
She didn’t even say goodbye
I guess she didn’t have the heart to try
She didn’t even have the guts to lie
Father time
Only you can turn the page
And close the curtain on this empty stage
Only you can take my pain away…

Hanya kamu!

Lyric taken from Father Time by Richie Sambora

Aku Hanya Rindu

Waktu melenggang begitu saja, mengibas pada rentetan kebersamaanku denganmu. Sedikitpun ia tak sisakan pikiran untuk sekadar mengenang sisa wangi tubuhmu pada malam yang aku lewati sendiri. Maka, ketika rinduku padamu tak lagi temukan hulunya, aku mengais pada kenangan yang pertemukanku denganmu dalam duniaku sendiri; Satu-satunya dunia yang aku miliki tanpa seorangpun sanggup tinggali. Pun kamu.

Dan aku temukan: Lagu-lagu melankolis itu, lagu banci yang kamu benci . Warna gelap-terang yang kau sukai itu, warna jiwamu. Minuman kesukaanmu dengan bulir embun dingin di gelasnya, terteguk bibir indahmu. Tulisan tentang kerinduanmu nan puitis kepadaku, siratkan ketakutanmu akan pergiku. Masih banyak lagi…

Semua itu kembalikanmu kepadaku. Pada pelukanku yang tak pernah ingin melepasnya dan membiarkanmu berlalu.

Aku hanya rindu, jika itu yang ingin kamu tahu.

Berbagi dengan Bunga

Pikiranku mengembara entah kemana. Kebahagiaan atas kekayaan perasaanku malam itu membuatku tak mampu meredam keharuan. Bunga-bunga indah di sekelilingku tebarkan wangi surga dan bisikkanku satu semangat berbahagia.

Bayangkan, dalam satu malam aku didaulat menjadi raja pada sekumpulan bunga yang tengah merekah. Alangkah tersanjungnya. Setiap kata dan setiap cerita seperti dengungan sayap lebah yang bergerak memberi kekuasaan berbagi romansa.

Terima kasih bungaku, terima kasih atas keindahan yang engkau berikan. Terima kasih atas wangi yang selalu sedapi pikiranku.

~ Carita, 10 Januari 2009