Beberapa hari ini aku berpikir tentang ‘kepentingan’. Kepentingan menjadi semacam tolok ukur paling tinggi untuk menyimpulkan ‘ingin’, ‘harap’, ‘butuh’, ‘pamrih’, dan nilai-nilai mutualisme yang lain. ‘Kepentingan’ ini malah menjadi semacam ‘keinginan’ yang tersirat dari sebuah hubungan. Hubungan apa? Hubungan apa saja, pertemanan, persaudaraan, keluarga dan lain-lain, bahkan permusuhan!. Aku masih ingat status salah satu kawan di facebooknya: Tidak ada pertemanan yang abadi, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Sungguh ‘kepentingan’ mempunyai arti yang sangat dalam.

Saat ‘kepentingan’ ini berlaku dalam sebuah hubungan sosial maka semua jalan berujung pada nilai-nilai keuntungan semata. Bisa keuntungan materi atau keuntungan non materi. Dan sebagai manusia, wajar jika mengakui semua mempunyai kepentingan. Kepentingan atas pekerjaan, kepentingan atas pergaulan, kepentingan atas kepercayaan; Kepentingan atas apapun!

Maka rambu “Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Berkepentingan” sesungguhnya masih terlalu absurd. Karena siapapun yang masuk pasti mempunyai kepentingan. Bahkan ketika seekor kucing memasuki ruang ‘terlarang’ itu!. Kucing itu pasti punya kepentingan; mencari makan, mengejar tikus atau apapun. Apalagi jika manusia yang memasukinya…

Kepentingan adalah segalanya karena keberadaanya melingkupi semua hasrat dan niat manusia atas sebuah hubungan. Tak ada yang tidak penting, karena semua mempunyai kepentingan.

Advertisements