Rasa ‘pantang menyerah’ atas usaha yang dijalani adalah anugerah hebat jika dimiliki. Semangat menggebu laksana bisa melumerkan sebuah batu menjadi segenggam debu. Apalagi jika semangat itu bertengger atas alasan mempertahankan kehidupan yang tak ingin terputus di bumi ini.

Jadi jangan heran jika melihat semangat pantang menyerah Petugas Kebersihan yang rela menghirup aroma sampah membusuk dan tanpa ragu memungut dan membersihkannya. Atau semangat pantang menyerah seorang pengasong alat tulis yang naik turun metromini di perempatan sekalipun belum tentu laku besar dalam sehari. Atau mungkin juga semangat pantang menyerah seorang ibu penjual jamu gendong yang berjalan kaki keliling kota mencari pembeli segelas-dua gelas jamu ramuannya. Dan banyak lagi…

Dengan logika terbalik mungkin kita bisa sadari bahwa siapapun pasti mempunyai rasa pantang menyerah dalam hidupnya. Pantang menyerah seperti sebuah keharusan untuk tetap survive mempertahankan sesuatu yang kita yakini.

Mungkin kita pantang menyerah membuang sampah sembarangan sekalipun larangan dan himbauan tertulis dimana-mana. Mungkin juga kita pantang menyerah mengumpat seorang pedagang asongan yang memaksa masuk di metromini penuh sesak dan panas di satu hari. Atau mungkin juga kita pantang menyerah meneriaki tanpa santun seorang ibu penjual jamu yang tak mendengar panggilan saat kita butuh jamunya. Dan seterusnya…

Apakah benar semua itu berarti ‘pantang menyerah’?

Advertisements