Aku lelah, tapi masih saja memaksa otakku menjaga keseimbangannya dengan segala daya. Sudah 28 jam lebih aku memacu mata dan otak kanan-kiriku untuk merumuskan kaidah-kaidah irasional ke dalam bentuk yang tak biasa. Dan di sini, menyendiri menenggak kopi adalah caraku mempertahankan kelopak agar tak menuntut mengatup.

Kulihat berkeliling: Manusia-manusia tanpa jiwa lalu lalang di sekelilingku dengan tubuh tegap, congkak dan penuh prasangka.

Di balik kelopak yang indah dan memantul warna warni lampu itu tersimpan kemarahan dan kebencian terhadap apapun yang di hadapannya. Pada kursi, pada meja, pada dinding dan tentu pada manusia ‘terendah’ yang duduk di lantai sambil mengerang.

Dan setiap mulutnya terbuka hendak bicara, semburan lidah api dan remah-remah kaca merobek dan membakar semua yang dihadapinya. Menyakiti hingga ulu hati, mengiris hingga darah mengalir amis.

Aku tak lagi sanggup melihatnya. Biarlah manusia-manusia tanpa jiwa itu menjalankan tugasnya sebagai dajal dari lidah api yang selalu membakar jiwa segala di hadapannya.

Aku menutup mata. Menghitung langkah dalam hati hingga manusia tanpa jiwa itu ada di sisi. Kopi ini harus kusiram ke mulutnya hingga apinya mati.

Advertisements