Aku duduk di desakan penumpang trans Jakarta pada jam kerja. Terbelalak aku pada buku lama Agus Noor yang membuatku merasa waktu terpotong lebih pendek? Menyenangkan sekali berpura serius membaca, menikmati kata dan cerita yang sengaja jauhkanku dari etika dan tepo seliro. Tak menghirau aku pada bapak tua yang berdiri terhimpit atau ibu separuh umur yang sempoyongan berdiri menjaga imbang dari bus yang melenggang.

Untuk apa terlihat intelek membaca buku, mendengarkan musik atau berpura-pura tidur dalam bus ini? Agar tak berkewajiban memberi bangku nyaman ini pada orang tua, wanita hamil, anak-anak atau siapapun? Atau untuk membuatmu tetap hidup karena tidak mati kelelahan menopang kaki dalam sepenggal perjalanan dari satu halte ke halte berikutnya?

Advertisements