Imajinasi dan fantasi seperti menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kadang-kadang keduanya munculkan persepsi yang bias di kepalaku. Jangan tanya tentang apa, karena semua bisa saja berseliweran di kepalaku. Tak peduli soal ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan –> Hai, kok jadi inget jaman jebot ya…) maupun soal printilan cinta.

Aku mencoba jadikan kepalaku sebagai padang rumput dimana imajinasi menyulap dirinya menjadi sekumpulan kambing yang bebas merumput dibawah rindangnya pohon-pohon fantasi. Yang membuatku senewen adalah saat kambing imajinasi itu kekenyangan merumput. Sontak mak blak babak bunyak tokay markengkong bulet-bulet segentong mengotori ranah penggembalaan hijau di kepalaku. Sekalipun adem dan sejuk sepoi-sepoi, tetap saja butiran tokay kambing mengganggu kesempurnaan ‘dunia kepalaku’.

Akhirnya persepsi keindahan antara kebun dengan rumput tinggi subur, sekumpulan kambing montok dan rindangnya pohon yang menaungi, berubah menjadi sebuah toilet kecil yang menjijikkan. Bukan salah tokaynya! Tokay adalah edisi akhir dari proses metabolisme tubuh. Jadi dia adalah “akibat” alias obyek penderita. Kalau soal bau dan bentuknya yang aneh, itu memang haknya si tokay kambing.

Membebaskan imajinasi dan fantasi memang tidak mudah. Ada batasan absurd yang dibangun oleh manusia yang merasa dirinya ‘super’ hingga kesampingkan tulusnya imajinasi dan fantasi. Bisa dibayangkan sekerdil apa manusia itu! Dia hanya melihat sesuatu dari sisi yang salah, melihat sesuatu dari sisi dimana dia berdiri, melihat dari sisi dimana kebenaran (yang juga absurd) itu dia yakini. Malangnya…

Jadi tetap saja tokay yang disalahkan! Karena dia pembawa aroma neraka, dia pembawa comberan petaka. Hingga imajinasi dan fantasi menunggu mati suatu hari nanti.

Advertisements