Semut-semut di mejaku semakin mengganggu. Mulai dari gelas kopi, henpon, remote sampai papan ketik dijelajahinya. Belum lagi tumpukan kertas, dinding bahkan kaki dan tanganku digerayanginya. Memang hanya ‘semut gula’, tapi jika kedatangannya tak sekedar lewat, ini membuatku kelimpungan, risi dan geli. Gila!  Tak ada gula ada semut! Tak terhitung, berapa puluh semut dalam sehari aku binasakan karena menggerayangi tubuhku dan sesekali menyengatku. (Jika Ketut Epi bertanya, mengapa diciptakan kecoa. Maka aku bertanya, mengapa diciptakan semut? hehehe…)

Segala upaya sudah aku lakukan untuk mencegah kehadiran semut-semut itu, mulai dari mengamankan makanan dan minuman manis, membersihkan remah-remah makanan, mengurangi tumpukan kertas, menggunakan kapur anti semut, dan sebaganya. Tapi binatang kecil masih saja ‘kondangan’ ke area aktifitasku. Mungkin Raja Semut mendoktrin pasukannya untuk ekspansi ke semua kawasan dimana aku berada, demi makanan dan demi rantai kehidupan yang harus tetap terjaga. Tak peduli resikonya jika harus mati terinjak, digencet, atau tersapu tiupanku yang akan melemparkannya entah kemana.

Sungguh binatang kecil yang pantang menyerah…

Advertisements