Seringkali ketika seseorang dengan penuh cinta tertinggal di padang yang sepi dan sendiri, tubuh dan ruhnya tak lagi menyatu. Buliran kerikil terinjak kaki dekil tak lagi memberi kepedihan pada kulit kaki telanjang sekeras martil. Tapi setitik debu yang berkelebat di kedipan mata sanggup robohkan karang rapuh tak terisi di bagian dalamnya. Miris.

Demikian aku.

Panas, hujan, dingin, kering seperti satu keadaan yang tak ada bedanya buatku; semua tampak sama. Hiruk pikuk keadaan sekeliling hanya ingatkanku pada keadaan bahwa aku masih hidup dan merajai bumi. Tak pernah lebih. Sedangkan kalbuku seperti seuntai bulu lembut yang bergerak tak tentu arah dikibas angin terlembut; Demikian ringan dan rapuh.

Ketiadaanmu sudah hancurkan pikiranku dengan rapi. Kamu sadari bahwa tak perlu membuatku penuh darah untuk matikanku.  Tak perlu trisula tajam untuk mencabik hingga badanku terburai. Engkau telah piawai mencambuk seluruh harapan dan mimpiku kemudian menghelanya menuju tepian jurang tanpa dasar.  Inikah yang kau sebut cinta dan kau yakini tak bisa hilang itu? Alangkah ironisnya…

Meski hanya pikiranku yang bercerita dan pikirkanmu, tapi aku sungguh nikmati itu. Setiap dawai angin yang rasuki hidungku dengan wewangian merah jambu buai aku pada harum tubuhmu. Setiap bebunyian yang menombak telingaku bawa aku pada merdu suaramu saat berkidung untukku…di masa lalu.

Kenapa kau sisakan perih saat laju cinta ingin kita raih ujungnya? Kenapa kau sisakan sendiri saat jiwa kita telah berbagi?

Aku pahami, kau punya rasa pada apa yang aku rasa; tentang ngilu ini. Tapi kau bisu.

Advertisements