Saat ini di negeri kita yang cantik hampir setiap jengkal terpampang foto “malaikat” dengan tampilan mencolok, norak, ndesit ditambah bumbu kata-kata yang indah. (Malaikat? Mohon maaf untuk semuanya, aku sebut begitu tanpa maksud mendiskriditkan agama atau kepercayaan apapun. Itu pilihan karena mengacu pada film-film Hollywood yang mengusung cerita ‘malaikat palsu’; Malaikat yang asalnya dari manusia).

Biasanya aku selalu baca tulisan-tulisan di spanduk, baliho atau bilboard yang terpampang mencolok di pingguir jalan. Tapi belakangan itu tak menarik lagi buatku. Selain karena bosan membaca tulisan yang artinya itu-itu saja, aku juga merasa betapa banyak uang yang terbuang untuk produksi material itu. Yang pada akhirnya nanti hanya terbengkelai, ambruk, sobek, sisakan sampah di pinggir jalan, paku-paku di pohon dan kayu-kayu terikat di pagar jalan. Alangkah berantakannya.

Aku yang tadinya sempat terkagum-kagum dengan makna dan cita-cita tulisan itu tiba-tiba menjadi muak. Banyak yang tak kenal dengan foto-foto itu, apalagi kenal namanya (yang juga terpampang di situ). Kemana saja mereka selama ini? Kenapa baru muncul sekarang dan gembar-gemborkan janji mengatasnamakan rakyat? Kenapa ingin dikenal di putaran lima tahunan? Kenapa merasa dekat (dan ingin terlihat dekat) dengan rakyat di saat-saat seperti ini? Apakah jika terpilih akan  menjamin ‘malaikat’ itu ingat apa yang pernah dia janjikan untuk rakyat?

Ada ajaran bahwa ‘jika tangan kananmu berbuat baik, tangan kiri tak perlu tahu’. Busyettt, ini adalah ajaran kebaikan yang meninggikan nilai-nilai keihklasan, ketulusan dan kejujuran. Tak perlu menyumbang korban bencana alam sambil mengundang puluhan wartawan jika ada ketulusan. Tak perlu –sok akrab– memeluk rakyat miskin hanya karena ingin mencari massa.

Ketulusan itu tidak pernah berharap pada pamrih. Semua tahu itu! Lebih jauh lagi, tak perlu menjadi orang terkenal (bahkan sampai memasang foto aneka gaya) hanya untuk melakukan kebaikan untuk rakyat. Apakah jika tidak terpilih, malaikat-malaikat itu tidak memperjuangkan sesuatu untuk rakyat seperti spanduk dan balihonya? Alangkah naifnya…

Begitu pentingkah menjadi ‘malaikat’? Atau ada sesuatu yang ingin diraih hingga pesta lima tahunan menjadi arena paling bergengsi untuk diperebutkan? Lebah tidak akan terbang jauh jika tak ingin mencari madu…

Sebagai rakyat –sekalipun dengan harapan kecil– kita hanya bisa berharap kebaikan pada sistem yang sudah ada. Silakan para malaikat itu memasang foto andalan dan tulisan segede gajah tentang janji-janjinya. Rakyat hanya harus/bisa memilih. Apakah tidak memilih itu adalah sebuah pilihan? Semoga spanduk, baliho, bilboard itu menjadi sertifikasi janji tulus untuk membangun negeri ini, terpilih atau tidak terpilih. Karena mengabdi untuk bangsa itu tidak harus menjadi pejabat…

Pemilu ini tak perlu mencoblos!

Cukup contreng saja…

Advertisements