Sekitar 8 tahun lalu, Elin adalah wanita paling muda di kantorku. Terbukti saat hari lahir kantorku diperingati, Elin adalah penerima potongan tumpeng dari Ndoro Sepuh (Hehehe, gak apa-apa ya Mas Bud, saya sebut begitu…) sebagai pegawai paling muda. Namun begitu, sikap dan prilakunya sudah terhitung matang.

Elin wanita yang baik, santun dan agak sedikit pendiam. Perubahan gaya hidup di kiri kanannya tidak membuatnya terpengaruh menjadi wanita metropolis yang hedonis dan glamour. Elin tetap pada dirinya: Ramah, santun, sabar, polos, dan bersahaja. Sholat tidak pernah Elin lewatkan, sesibuk apapun. Inilah wanita surga, pikirku…

Elin tidak terlalu tinggi, kulitnya coklat muda. Rambutnya bergelombang sepundak. Satu-satunya tanda yang mudah dikenali adalah tahi lalat di sebelah hidungya. Tapi percayalah, itu justru membuatnya semakin terlihat anggun dan menarik. Maka tak salah jika suatu pagi Elin terheran-heran menemukan setangkai mawar merah di atas meja kerjanya. Tanpa nama pengirim (Beberapa teman sempat ‘menuduhku’ yang menaruh bunga itu, mengingat reputasiku sebagai satu setan jahil di kantor. Tapi jujur bukan aku!). Elin hanya tersenyum. Dengan sikap simpatik dia menaruhnya di meja. Tidak langsung membuangnya di tempat sampah seperti wanita-wanita sok cantik sedunia. Dan bunga itu adalah satu bukti bahwa banyak laki-laki yang mengaguminya. Pun aku dan beberapa sahabatku.

Perjalanan waktu membuat Elin semakin dewasa dan matang. Perubahan busananya menjadi wanita berkerudung semakin mengukuhkannya sebagai seorang istri yang shalehah dan ibu yang anggun untuk putrinya, Nashwa. Karena sikapnya itulah Elin dipanggil ‘Bunda’ oleh teman-teman sekantor yang lebih muda darinya.

Beberapa waktu lalu aku sempat ngobrol dengan Elin membahas panggilan barunya itu.

“Lin, gak terasa ya, tau-tau sekarang kamu udah tambah tua. Banyak yang manggil kamu Bunda. Padahal dulu, sepertinya kamu paling muda di sini,” kataku.

“Iya Mas, waktu, cepet banget ya…” tukasnya sambil tersenyum. Elin tidak mencak-mencak seperti wanita lain yang aku bilang ‘tua’. Memang Lin, waktu berjalan cepat dan tak terhenti, batinku, sambil melihat perut buncitnya yang berisi anak kedua.

Siang tadi aku mendapat e-mail:

Dear all

Kronologis musibah yg dialami Elin mengenai meninggalnya putra kedua Elin didalam kandungan (usia kandungan sekitar + 6 bulan lewat, sebelumnya maaf kl infonya kurang jelas krn info inipun didapat dr suamnya elin yg juga masih binggung dgn situsiasi yg sedang dihadapi),

Jumat malam, 6 Feb. 09, elin mengalami sakit perut (mungkin kontraksi) lalu dibawa ke dokter dimana dia biasa memeriksakan kehamilannya kondisi elin dan bayinya menurut dokter tidak mengkhawatirkan, tetapi selang beberapa jam kondisi Elin justru pingsan dan langsung dibawa ke RS Haji Jakarta (selama perjalanan sesekali Elin sadar), lalu kondisi elin dan bayinya diperiksa, kondisi bayinya saat diperiksa detak jantungnya sangat lemah: kondisi Elin makin ngedrop saat mengetahui kondisi bayinya tersebut), sampai akhirnya Sabtu, 7 Feb. 09, bayi Elin tidak tertolong dan harus diangkat melalui operasi caesar, sampai pagi ini senin, tgl 9 Feb. 09 kondisi Elin belum stabil, tetapi menurut info dari suaminya Elin sudah mulai sadar walau sesekali masih pingsan, mungkin krn kondisi belum stabil ini pula maka Elin masih dirawat di ruang ICU.

Keadaan berubah dengan cepat dan apa adanya. Dunia berputar dan tak peduli dengan apa yang ada di atasnya. Pohon-pohon tumbuh, tumbang dan hilang. Bunga-bunga tunas, mekar dan juga hilang begitu saja. Seterusnya.

Elin masih tergolek di rumah sakit sore ini.

Di bagian akhir tulisan ini, mari kita iklaskan doa untuk Elin. Semoga kemurahan-Nya kirimkan kesehatan dan kekuatan untuk Elin dan keluarganya. Amin.

Cepat sehat ya Lin…

Advertisements