Malam baru saja datang. Senja yang baru saja hiasi langit dengan mendung kemerahan beranjak dari sudut mataku. Sisa gerimis di bebatuan dengan rumput kecil basah pantulkan aroma tanah yang lembut ke paru-paruku. Aku pejamkan mata, seperti hendak usir puluhan kelelahan yang aku alami hari ini.

Di hadapanku seperti bayangan, seorang wanita cantik berambut lurus berpipi oval menikmati hulu malam dengan gaya yang sama. (Kecantikannya ingatkanku pada sahabatku kecilku yang entah kini berada di mana). Sesekali aku mencuri lihat ke arahnya. Pasmina putih yang menutupi sebagian pundaknya berkibar perlahan setiap dia menatap ke langit sambil menghirup wangi tanah. Aiiihhh cantiknya…

Aku masih terpancang pada keindahan wanita di hadapanku ketika aku menangkap jejak air mata membekas di kedua pipinya. Segera kubuang pandangan mataku pada rumput hijau basah di sekelilingku. Aku tak sanggup….aku tak sanggup melihat wanita menangis. Pada keindahan seperti itu, kenapa masih diciptakan air mata untuk kesedihannya? Semoga itu adalah air mata atas kegembiraannya…

Di bimbang rasa tak kuasa melihat air mata, aku hantarkan tubuhku pada sisi kanannya, tepat di sudut bebatuan. Sekelebat angin sertakan wangi tubuhnya pada pikiranku yang lunglai menilai kata pertama yang harus aku buka.

“Kenapa engkau menangis?”

Wanita itu melihatku dengan mata sembab. Aku terhenyak. Matanya membias melukis sepercik air di tiap kelopaknya. kecantikannya tak luruh karena tangisan itu. Sekilas kulihat sebuah gelang hitam di lengannya yang menjuntai putih bersih berbulu lembut. Berkali-kali jemarinya meremas gelang hitam itu, seperti hendak menghancurkannya menjadi debu dan membebaskan lengannya yang memerah tertindas gelang hitam itu.

“Aku ingin menari. Aku ingin menari. Aku ingin melepaskan pikiranku pada tarianku,” jawabnya gusar. Tanganya tak henti berusaha lepaskan gelang hitam yang makin basah oleh semburat air matanya.

“Lalu kenapa tak segera engkau menari?”

“Aku sudah berjanji pada Tuhan,”

“Pada Tuhan? Janji apa yang engkau berikan?”

“Aku berjanji tak akan menari jika gelang ini masih bertengger di lenganku,” katanya lirih. Kemudian wanita cantik itu menunduk. Kali ini aku dengar isaknya dengan jelas. Kesedihan yang bisa kuukur sedalam apa. Kepedihan yang bisa kuterawang sejauh mana. Tak ada wanita yang relakan air matanya membanjir hanya karena persoalan yang dangkal. Dan menari bukanlah hal yang dangkal.

Aku berpikir, bahwa Tuhan terlalu bijaksana untuk mengingat janji duniawi yang tak berurusan langsung dengan-Nya. Tuhan mengerti bahwa pencapaian ketenangan hatilah yang akan hantar seseorang pada pemenuhan janjinya. Bukan karena sebuah gelang hitam. Tapi itu masih pikiranku. Entahlah sesungguhnya. Tuhan lebih tau…

Tak ada kata yang aku ucapkan. Spontan kuraih pundaknya, kupapah dia berdiri di depan dadaku. Kepalanya tetap tertunduk. Kubentang tangannya sambil menuntunnya bergerak perlahan. Menari! Lamat-lamat kumainkan suara gamelan dengan mulutku di telinganya. Berharap malam ini suara tetabuhan yang aku dengungkan bisa curahkan semangat buatnya menari.

Wanita cantik itu kurasa semakin berat. Dan sedetik kemudian dia luruh di hadapanku. Terkulai tak bergerak. Matanya terpejam dan sisakan kelopak basah di sudutnya. Di lengannya gelang hitam itu masih menghias.

Advertisements