Aku tak mampu lagi berkata, semua bukti telah menunjukkan kedekatanku dengan seseorang. Sejak pagi tadi, satu-satunya kalimat  yang aku terima (dan terakhir) hanya cerita tentang kecemburuan itu. Meski terucap dengan kalimat retoris yang santun dan runut, tetap saja aku rasakan kemarahan dalam getar suaranya.

Aku sengaja tak membabi buta mengklarifikasi praduga bersalah yang ditujukan kepadaku itu. Bukan aku mau mengamini tuduhan itu, tapi karena aku ingin memberi jeda pada emosinya yang meledak-ledak dan tak terkontrol itu. Aku maklum, bukankah wajar seseorang memperjuangan apa yang seharusnya menjadi miliknya? Aku tau, saat emosi, logika cenderung berada di bawah pantat.

“Sayang, aku mencintaimu. Sampai saat ini aku masih merasa hanya kamu yang bisa membuatku rasakan ketenangan,” kataku setelah sekian lama kita tak saling menyapa. Aku melihat waktu yang tepat untuk segera meluruskan kesalahpahaman itu, yaitu sore ini. Tapi tak satupun balasan aku terima dari bibirnya yang dingin. Lagi-lagi kemaklumanku yang tak berbatas ini menerimanya. Mungkin dia masih miliki prasangka itu di kepalanya, pikirku. Artinya, dia butuh waktu lebih lama lagi untuk redakan itu.

Hening berjam-jam hingga malam menjelang.

“Doaku adalah hantarkanmu pada pencarian pemenuhan hidup, bukan julurkanmu pada sengsaranya. Apakah tak kamu sadari setiap detik yang aku lakukan adalah tinggikan namamu pada tangan Ke-Esaan agar engkau kuat dan hebat?”

Aku terdiam. Sepenuhnya aku tahu itu. Aku hanya tengah mencari pintu untuk mengetuk jendela hatinya pada waktu yang tepat. –tentu tanpa maksud memutihkanku atas kekhilafan ini. Bukan itu! Buatku, membaca waktu dan kemudian merasukinya di saat yang benar jauh lebih baik dan efisien. Tak banyak suara terbuang, tak banyak tenaga tersia.

“Aku milikmu. Segala apa yang terjadi di kiri-kananku tak akan kikis sedikitpun perasaanku buatmu. Jadi aku mohon pengertianmu. Aku mengaku salah telah tempatkan hal yang tidak semestinya dalam hidup yang kita jalani ini. Tapi percayalah, itu khilaf. Jadi maafkanlah. Beri aku waktu benahi dan buktikan itu,” jelasku.

Dia terdiam. Seperti tengah berbicara dengan bagian tubuhnya yang lain untuk memproses kalimat panjangku.

Aku pandangi matanya yang menatapku dengan amarah menganga.  Aku ingin aliri dia dengan logika pembelaanku agar dia pahami semua persoalan ini. Toh, semestinya kita sudah lalui sengketa seperti ini bertahun-tahun yang lalu. Aku hanya ingin buktikan itu. Yang kuperlu hanya waktu dan cintamu…

Advertisements