“Mas, tadi katanya tiket Taksaka cuma 230 ribu, kok aku beli jadi 330 ribu?” Suara telpon di seberang tampak berat, tanda kecewa.

“Wah, aku nggak tau Men, biasanya harganya Rp 230 ribu,”  belaku dengan tenang.

Asli, aku jadi merasa tidak enak pada temanku yang  rencananya Sabtu, 24 Januari ini hendak ke Jogja. Biasanya memang harga tiket Kereta Api (KA) Eksekutif Taksaka jurusan Gambir – Jogjakarta di sabtu-minggu senilai 230 ribu.

Sambil memompa otakku yang mulai pikun, aku melihat-lihat kalender di meja dan di dinding. Ada 2 tanggal merah. Di kalender meja, tanggal merah libur Tahun Baru Imlek 2560 berada di angka 27, sedangkan di kalender dinding, tanggal merah ada di angka 26 (Gak kompak!). Untuk menghindari Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) jika tanggal merah tetap di pancang di tanggal 27, maka Pemerintah menggeser tanggal merah itu ke hari Senin 26 Januari. Jadi kesimpulannya, harga tiket KA Eksekutif akhir minggu ini menggunakan Harga Batas Atas karena ada hari Libur Nasional.

“Oh iya Men, aku tahu, kenapa harganya jadi segitu. Karena hari Senin kan Libur Nasional tuh, jadi harga tiketnya dipatok di Harga Batas Atas. Kalau akhir minggu biasa sih mungkin harganya pakai standar Harga Batas Bawah alias 230 ribu,” kataku sumringah. Lega. Seperti orang cerdas yang baru saja menemukan alasan mutakhir dan diplomatis berdasarkan analisis ilmiah. Paling tidak, ini bisa membuatku tidak terlihat begitu bodoh. Apalagi setelah itu aku jelaskan tentang kalender-kalender itu.

“Mas, soal hari libur Imlek itu aku juga tau. Justu yang aku tanyakan kenapa harus naik harga tiketnya? Apa urusannya dengan hari libur? Itu kan layanan publik ‘milik’ pemerintah juga, harusnya mereka bisa kontrol. Harga naik itu kan harus disertai dengan layanan yang lebih baik juga. Aku bolak-balik naik Taksaka, gak ada lebih baik sejak bertahun-tahun lalu,” Temenku malah ngomong panjang lebar dan keras. Walaupun dia bicara ditelpon, aku bisa bayangkan ekspresinya saat itu.

“Tau gak Mas, layanannya sekarang malah makin turun. Dulu naik Taksaka dapet makan nasi. Sekarang Boro-boro Mas! Cuma dapat roti gopekan 2 biji sama air mineral segelas! Ditambah teh manis anget seteguk sebelum sampai stasiun tujuan. Belum lagi TV yang cuma berada di ujung gerbong, jadi yang duduk di tengah atau belakang gak bakal bisa nonton TV,” sambungnya berapi-api.

“Mungkin alokasi dananya sedang dikonsentrasikan ke prasarana pendukungnya; Pengadaan rel ganda, renovasi stasiun, dan sebagainya,” kataku menenangkannya.

“Ah, alasan itu Mas, alasan! Ok, kalo memang alokasi dana ke sana, tapi kan minimal ada perubahan di layanan, bukan di barang. Misalnya tepat waktu, keamanan terjamin. Itu tidak mengurangi dana. Itu syarat dari sebuah layanan jasa. Lha wong aku 20 tahun lebih naik KA kok sekalipun belum pernah tepat waktu. Kalau selisih 30 menit aku maklum. Lha telat kok rata-rata 3 jam. Mending “waktu sampai” tidak dicantumkan di tiket.”

Mm, bener juga sih kata temanku itu.  Tidak hanya KA Taksaka yang justru mengalami pemunduran layanan itu, di kelas KA Bisnis apalagi. Sampai banyak yang bilang, KA Ekonomi yang tujuan akhirnya Stasiun Tugu namanya KA Bisnis (Di Jogja, KA Ekonomi berakhir di stasiun Lempuyangan). Karena KA Bisnis tidak ada bedanya dengan KA Ekonomi. Pedagang, pengamen dan tukang bersih-bersih ilegal berada di situ. Tidak bermaksud menyalahkan pedagang, pengamen atau tukang bersih-bersih ilegal itu, tapi pada sistem yang terlanjur kacau dan membuat penumpang merasa tidak dihargai.

“Mas, pegawai-pegawainya juga….”

Tuuuttt… Tiba-tiba telpon terputus. Saat aku kebingungan, sebuah sms aku terima: Mas, maaf, pulsaku habis. Sampai ketemu di Jogja!

Advertisements