Aku lelah. Sepertinya masa-masa kebersamaan denganmu hanya menyisa semu. Aku tak miliki lagi apa yang semula aku miliki. Seperti mutiara terangkai yang terputus talinya; mereka berjatuhan dan berserakan tinggalkan bunyi-bunyi miris yang melecut kesunyian.

Berkali-kali aku coba meraih sekelebat sempat yang aku miliki. Atau bahkah sesekali aku rendahkan diri untuk sekedar mengajakmu menari pada puisi-puisi tanpa nurani. Tapi tak berdaya. Aku –dan mungkin engkau– hanya bisa saling menista dan membimbing prasangka pada ujung-ujung kepedihan selamanya. Kita seperi berdiri pada satu garis yang sama di dua dunia. Tak mengena dan tak berguna.

Dan tetap saja menyiksa meski telah 1001 cara…

Advertisements