Angin berasa agak laju siang itu. Apalagi di tempat yang agak tinggi seperti di jembatan Trans Jakarta. Niatku adalah membelah kemacetan Jakarta di sore hari menumpang raja jalanan paling bongsor: Trans Jakarta (Orang biasa menyebutnya Busway). Jarak yang akan aku tempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi ini Jakarta Jek, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh.

Langkah santai kuayun menuju loket sambil berusaha mengeluarkan uang yang aku taruh di saku kiri belakang celana jeansku (aku tidak terbiasa menaruh uang di dompet). Kudapati tujuh lembar uang ribuan, satu sepuluh ribuan dan dua lembar lima ribuan, ketika tiba-tiba…

“Wussss….”

Uang kertasku berhamburan tertiup angin. Sigap dan cekatan kuraih satu demi satu uang-uang itu. Bak pangeran kodok kedua kakiku sibuk mengincar uang kertas itu supaya tak berterbangan ke bawah jembatan. Tak peduli petugas halte Trans Jakarta yang senyum-senyum melihatku. Berhasil, terseok-seok kupungut satu demi satu uang kertas itu. Lalu kurapikan sambil kuhitung.

“Satu, Dua, Tiga…mmm…mmm…kurang satu lembar lima ribuan!!!”

Mataku melotot, mulutku manyun memeriksa sepanjang jalur jembatan. Sampai akhirnya aku melongok ke bawah jembatan. Selembar lima ribuanku yang masih agak baru tergolek di jalur Trans Jakarta. Sesekali uang itu berpindah tempat karena tertiup angin kendaraan-kendaraan besar yang lewat. Aku bingung, ingin rasanya melompati pagar dan memungut uang lima ribuan itu. Sayang kan kalo hilang. Tapi urung, karena masih agak tinggi dan dijamin ribet sumrepet kesrimpet kalau kupaksa mengambil kembali uang itu.

Mataku nanar melihat uang itu dipermainkan angin. Sayang sekali, lebih baik uang itu aku sumbangkan ke Masjid atau kutitipkan untuk membantu korban perang di Palestina, atau kuberikan kepada siapapun yang memerlukan. Andai saja uang itu masih ada…

Gubrak! Gubrak! Tuing! Tuing!

Tiba-tiba otak sintingku digilas sisi akal sehatku dengan sadis. Katanya…

“Woiiiii! Kamu gak bisa berpikir waras ya Die?, ” Asli aku kaget setengah mati. Bagian jiwaku yang sudah lama aku ikat di penjara alam sadarku langsung muncul dan mencak-mencak di mukaku.

“Sekalinya uangmu terbang dan menghilang, kamu menyesal dan berpikir untuk memberikannya kepada orang yang membutuhkan. Kenapa tidak dari tadi? Kenapa tidak kau berikan ketika uangmu belum hilang? Kenapa tidak kau ikhlaskan sebelum angin menerbangkannya?”

Glek! aku malu…

“Die, kamu sungguh keterlaluan. Kenapa harus kehilangan dulu untuk ingatkanmu pada orang yang membutuhkanmu? Apakah kamu harus kehilangan nyawamu dahulu untuk sadari bahwa ada kebaikan yang bisa kau lakukan selagi nyawamu masih di pundakmu?”

Aku terdiam. Sungguh tak mampu aku melawan kata-katanya yang begitu lugas dan nylekit. Aku masih rasakan angin agak kencang menampar wajahku ketika…

“Plekkk!”

Selembar kertas menutup hidung dan pipiku. Uang lima ribuanku yang tadi tertiup angin kini dengan cara ajaib kembali ke tanganku. Ah, alangkah senang hatiku. Tapi aku sudah bertekad memberikan lima ribuan ini kepada orang yang membutuhkan, kepada pengemis kecil yang tadi kulihat di ujung jembatan. Tapi aku tidak menemukannya. Jembatan telah sepi dan gelap. Tak satupun orang terlihat di jembatan maupun halte. Kiri-kananku lengang, hampir tak ada kendaraan melintas.

Advertisements