Sepanjang jalan pulang aku masih memikirkan kalimat Shanaz Haque saat menjadi tamu di acara Talk Show Scope Indonesia 2008 di JCC beberapa jam lalu; “Dada harus tetap merah putih, kepala boleh internasional”. Mungkin oleh beberapa orang, kalimat ini dianggap ungkapan sok nasionalis atau apa. Tapi buatku ini sebuah pernyataan yang menyentil pemahamanku tentang “dada dan kepala”. Aku setuju dengan pendapat Shanaz tentang bagaimana membentuk anak kita menjadi pribadi yang pintar dan berahlak baik tanpa ‘mendurhakai’ tanah kelahirannya.

Saat ini anak-anak Indonesia yang “benar-benar” Indonesia sudah berkurang jumlahnya. Sebagian sudah menjadi anak-anak “import” yang berlaku bak turis manca di negerinya sendiri. Jangan tanya siapa Patimura, Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika, mereka tidak akan tahu. Atau cobalah memintanya menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, Di Timur Matahari atau Rayuan Pulau Kelapa. Miris, tapi inilah kondisi yang ada sekarang ini.

Mungkin itu salah satu efek yang tidak menguntungkan sebuah globalisasi dari sisi sosial budaya. Indonesia sebagai negara dunia ketiga berada pada posisi ‘terbuka’ menerima penyebaran budaya dari seluruh penjuru dunia. Lalu lintas informasi yang tak terbendung disalahkan sebagai biang keladi dari perubahan itu.

Dua minggu lalu ketika aku berada di sebuah warnet, tak sengaja telingaku terusik oleh suara anak-anak yang membahas sesuatu tak lazim menurutku. Saking kerasnya dialog itu, aku sampai menggeser kepalaku mencari sumbernya hingga menemukan mereka yang duduk persis di satu kamar warnet di depanku. Mereka 2 bocah laki-laki. Kaki mereka masih menggantung, bisa dibayangkan berapa usia mereka.

“Masak sih itu asli ciumannya? Mereka ciuman beneran itu?”
“Iya, ini asli, kok gak percaya sih?”

Aku terbengong-bengong mendengarnya.

Mungkin soal pengetahuan tentang pahlawan, lagu-lagu nasional dan hal-hal yang aku sebut di atas bukanlah kesalahan budaya negara-negara luar. Indonesia masih negara “timur” yang ke Indonesiaannya berjalan secara sederhana dan tradisional sepanjang waktu, jika tiba-tiba mendapat “hal baru ” yang lebih enak, gampang dan (dirasa) menyenangkan, apa bisa ditolak? Ibarat kuda yang lepas dari kandang….

Di situlah arti “pendidikan” untuk Indonesia seharusnya berperan.

Orang tua pastilah ingin menjadikan anak sebuah pribadi yang top markotop good marsogud di kemudian hari; Pribadi yang cerdas, modern, berahlak dan agamis. Tak salah jika ditambah juga penanaman nasionalisme dengan cara yang sesuai untuk usianya. Supaya kelak dia menjadi pribadi Indonesia yang benar-benar Indonesia: Berdada merah putih dan berkepala internasional.

Advertisements