Itu lelucon yang sering aku ucapkan, atau oleh teman-teman ‘gilaku’ saat tahu di kantorku ada rekan yang sedang kasmaran. Tentu saja kalimat itu tak tulus dari hatiku. Pun –aku yakin– tak tulus dari hati teman-teman gilaku. Itu adalah lelucon paling tidak lucu yang sering terdengar di kantorku. Seperti jadi tren. Seperti jadi ‘olokan’ paling pas untuk membuat orang yang kasmaran bersemu merah, ngomel dan kadang-kadang langsung melempar kami dengan sekotak tisu sambil mengacungkan jari tengahnya. Kemudian kami tertawa bersama. Anehnya, lelucon ini tak pernah sisakan dendam dan tak pernah keluar dari dinding kantorku.

Tiba-tiba aku kepikiran, benarkah tidak ada cinta di Jakarta? Cinta seperti apa yang tidak ada di Jakarta? Cinta seorang kekasih kepada pasangannya? Mmm… entahlah. Cinta orang tua kepada anaknya? Cinta seorang pegawai kepada pekerjaannya?

Setiap pagi di hari kerja, hampir seluruh jalan di Jakarta menjadi ‘medan perang’. Motor, mobil, angkot, bajaj, metromini seperti berlomba memiliki jalanan itu sendirian. Pernahkah kendaraan Anda tanpa sengaja menyerempet kendaraan lain? Apakah yang terjadi kemudian? Amarah plus emosi langsung mendominasi, bahkan kadang sampai langsung tonjok (pukul dulu, tanya belakangan).

Adakah cinta ketika seorang sopir metromini memaki habis-habisan karena berebut tikungan dengan kendaraan lain? Adakah cinta ketika seorang karyawan memaki seorang pesuruh kantor yang salah membelikan menu makan? Adakah cinta ketika seorang maling yang sudah tak berdaya dihajar hingga sekarat? Adakah cinta ketika orang saling pukul karena berebut masuk ke pintu bis Trans Jakarta? Adakah cinta di Jakarta?

Jakarta sebagai kota yang menyilaukan “hampir” sebagian besar warga ‘daerah’ memang menjadi tempat yang baik untuk belajar tentang cinta. Tak peduli cinta kepada siapapun. Bahkan cinta kepada Tuhan diuji ketangguhannya di sini. Paradigma bahwa Jakarta adalah surga pencaharian untuk menopang hidup membebani seseorang untuk survive dengan kekuatan yang dia miliki. Kekuatan yang bisa menghancurkan keimanan, kekuatan yang bisa luluhkan kepribadian, kekuatan yang bisa lelehkan kerendah-hatian, kekuatan yang bisa lumerkan cinta.

Adakah cinta di Jakarta? Kita masih saling membantu saat banjir melanda. Kita masih saling berebut ember untuk padamkan api yang membakar rumah tetangga. Kita masih saling mendoakan dan berjabat tangan usai Jumatan. Kita masih berbagi makanan dan pakaian kepada kaum papa si pelosok Jakarta. Dan seterusnya…

Adakah cinta di jakarta? Hanya Anda yang tahu jawabnya…

Advertisements