Hari ini aku membaca air mata. Air mata yang mengalir melewati pipi putih wanita cantik dan kemudian pecah berhamburan di lantai yang kusam. Seperti hujan. Air mata itu seperti ingin wakili kesedihan yang dalam. Kesedihan yang menghujam dan meremukkan segala isi dada. Air mata kesedihan. Terbata-bata dia bercerita tentang seribu duka.

Mataku meruncing menyorot tajam air mata yang masih mengaliri cerita duka yang keluar dari bibir merah wanita itu. Aku mengikutinya dari awal saat kelopaknya basah digenangi air mata. Ketika mata indahnya berkedip, genangan air itu seperti diperas dan meluncur dari sudut-sudut matanya yang memerah. Sesaat dibarengi sesenggukan yang buat tubunya tergoyang beberapa kali. Selanjutnya, air mata itu melewati lagi pipi putihnya dan seterusnya…

Tak ada keinginanku untuk membasuhnya dengan kertas tisu atau ujung bajuku. Tidak juga dengan sapu tangan atau jari-jariku. Aku hanya melihat, memperhatikan dan menyimak cerita duka yang dibaginya denganku. Bukan karena keangkuhanku atau kekakuanku, tapi karena sesungguhnya peranku hanya sampai di situ: Mendengar! Itulah yang seharusnya terjadi.

Jika memungkinkan, di akhir cerita nanti aku bisa tenangkan hatinya, sekedar untuk membantunya memapah jiwanya yang lunglai dibantai kesedihan tak terperi. Itupun jika aku mampu. Jika tidak? Yang dia butuhkan saat ini hanya pundak dan lenganku untuk menjadi sandar dan naungan kepalanya.

Aku selami kesedihan itu. Aku cicipi kedukaan itu. Aku rasai kepedihan itu. Karena sepertinya bibirnya tak perlu berbicara, karena air matanya sudah banyak bercerita…

Advertisements