Beberapa hari ini enerjiku terkuras untuk bekerja. Tak ada yang bisa hentikanku mengulik, menarik, mewarnai, menilai dan merasai apa yang muncrat dari kepalaku. Inikah kepatuhan? Inikah kreatifitas? Satu kepala, dua tangan dan seribu pekerjaan sepertinya perbandingan yang tidak seimbang. Apalagi jika ditambah dengan seribu persoalan. Tak jarang orang akan segera hinggap pada dahan-dahan muda kegilaan. Seperti aku.

Dalam satu Trilogi Pram (Pramoedya Ananta Toer) yang bertajuk Anak Semua Bangsa, kubaca sebuah kalimat yang sampai sekarang tertanam di kepalaku: “Mencari nafkah betapa harus meninggalkan beban”. Sebuah kalimat yang selalu sadarkanku bahwa beban itu sebenarnya tidak ada. Beban itu nisbi. Beban itu berasal dari diri sendiri. Beban itu adalah bentuk pengkotakan pikiran pada sesuatu yang merasa tak sanggup dilaluinya. Putus asa? Bukan! Belum sampai pada taraf itu. Dalam hal ini aku masih melihat ‘beban’ adalah tanggung jawab yang harus aku rampungkan. Entah itu pekerjaan, persoalan atau apapun…

Satu hal yang masih ingatkanku bahwa kehidupan masih berjalan disekelilingku hanyalah gelap dan terang. Aku abaikan angka-angka pada jam dan kalender. Tolok ukur waktu kuhitung dari kapan kulihat senja dan kapan kulihat fajar; Kapan terlihat gelap dan kapan terlihat terang. Rupanya waktu masih kalahkanku (lagi) di bagian lain hidup ini. Tak apa! Itu tandanya hidupku berotasi. Aku berharap segera lalui ini dan masuk ke babak lain kehidupanku.

Advertisements