Dua jam yang lalu…

Sutrisno sibuk membolak-balik tumpukan baju di lemari. Bagian atas sudah selesai diobrak-abriknya. Dia berhenti sejenak sambil garuk-garuk kepala, matanya berputar-putar seperti sedang mengingat sesuatu. Kemudian dia jongkok dan mengobrak-abrik tumpukan baju di bawahnya.

Ngatinem yang dari tadi memperhatikan tingkah suaminya kebingungan. Tidak biasanya suaminya sepulang jualan langsung mengobrak-abrik isi lemari. Biasanya dia membersihkan isi gerobak dulu, mandi dan sholat, baru kemudian beranjak tidur. Itu juga kalo si Thole jagoan-nya yang berumur 3 tahun itu tidak memintanya cerita tentang Kancil dan menemaninya tidur di depan TV kecilnya yang ‘tak berwarna’.

“Pak, cari apa to, kok kayanya penting banget?” Tanya Ngatinem sambil membereskan baju-baju yang dilemparkan suaminya di atas bale-bale tempat mereka tidur.

“Kertas bu. Apa kamu liat kertas kecil yang aku selipkan di bawah baju di lemari ini?” Sambil menjawab, tangan Sutrisno tetap sibuk menjelajah setiap sudut lemari.

“Kertas apa sih, Pak, kok kayaknya penting banget?”

“Kertas ya kertas. Pokoknya kertas itu harus ketemu supaya kita bisa dapat uang untuk beli gerobak baru dan nambah-nambah kulakan.”

Uang? Ngatinem makin penasaran. Tapi dengam sigap dan semangat langsung membantu mengacak-acak seisi rumah. Uang, apalagi yang lebih indah didengar saat ini selain kata itu, batin Ngatinem. Kali ini, giliran si Thole yang kebingungan melihat orang tuanya sibuk mengacak-acak isi rumah.

Tiba-tiba Ngatinem menghentikan pencariannya. Tumpukan kardus yang semula diambilnya dari belakang pintu perlahan diturunkannya. Dia bergegas menghampiri suaminya yang masih sibuk di sekitar lemari.

“Pak, sebenarnya yang kamu cari itu kertas kecil atau uang sih. Kalo cuma kertas, ngapain capek-capek nyari?” Ngatinem mulai sadar, kalo yang dia cari hanyalah kertas kecil, bukan uang.

“Itu kertas togel bu, Kemarin diam-diam aku beli togel dan tadi dikasih tau Wartijo jika angkaku tembus. Lumayan bu, bisa buat beli grobak baru untuk dagangan kita.”

“Sudah kamu cari di kantong celanamu, Pak?”

Ngatinem bersemangat lagi membantu mencari kertas togel suaminya. Pikirannya sudah membayangkan sebuah gerobak baru bertengger di depan rumahnya. Gerobak yang bersih, kokoh dan rapi akan membuat pelanggannya tak jijik lagi membeli sayuran darinya. Ngatinem melirik gerobak tua yang masih terlihat dari tempatnya berdiri. Rodanya sudah berkarat. Sisi-sisinya sudah mengelupas dan bolong di sana-sini. Belum lagi catnya yang sudah menyatu dengan dekilnya debu. Kadang-kadang beberapa anak tikus berhamburan keluar dari lubang-lubang itu.

“Bu, ketemu Bu, ketemu Bu!” Dilihatnya suaminya mengacungkan selembar kertas kecil ke udara. Sesekali diciuminya kertas itu. Ngatinem tersenyum, sudah lama dia tidak melihat suaminya segembira itu. Sedetik kemudian suaminya sudah meninggalkannya menuju rumah Wartijo untuk mengambil uang.

Ngatinem membasuh mukanya yang kusam. Betapa dekat kebahagiaan dengan kesedihan. Bahkan, buat dia, sepertinya tidak ada lagi batasan antara keduanya. Lima menit yang lalu Suparno, tukang ojek yang masih sepupunya mengabarkan bahwa suaminya ada di Rumah Sakit karena kecelakaan. Saat menyeberang jalan di depan kecamatan sebuah mobil menyerempetnya hinga Sutrisno bergulingan dan terkapar di selokan. Sutrisno tak sadarkan diri ketika warga berhamburan menolongnya. Sementara mobil yang menyerempetnya tancap gas entah kemana. Warga tak sempat mencatat nomor polisinya.

Sekarang dia harus ke rumah sakit. Laju pikirannya tak terkedali membayangkan biaya pengobatan suaminya yang tulang lengan dan kakinya patah. Sedangkan kertas togel yang sedianya akan ditukarkan uang itu entah ada dimana sekarang.

Diliriknya TV kecil tak berwarna kebanggaan Thole yang masih menyala.

“Maafkan aku ya, Le…”

Advertisements