Sebenarnya aku ragu-ragu mau menulis ini. Tapi biarlah, bukanya blog ini tempat kata-kata berkata? Aku mulai…

Sore itu seorang karibku tiba-tiba membuka pembicaraan dengan kalimat yang mambuatku bingung. “Kenapa sih orang bikin (nulis) blog? mau mengumbar masalah pribadi ke blogger? Masalah pribadi kok diumbar. Biar dapat belas kasihan?,” katanya sinis. Aku yang saat itu kebetulan sedang bermain dengan papan ketik sontak menghentikan gerakanku. Kata-kata yang sedianya siap kukirimkan ke jari-jariku sontak terganjal.

“Aku mau bikin tulisan: Blog bukan tempat buat Hacker!” katanya lagi tanpa mempedulikan aku yang menarik dahiku tanda kebingungan mencari arah kalimatnya.

“Sumpah, aku bingung dengan kalimatmu.” akhirnya aku dapat kesempatan untuk berbicara.

“Aku heran, kenapa sih orang suka nulis di blog, soal pribadi, cinta dan sebagainya? Biar dibaca orang? Buat apa? Kalo masalah pribadi mbok ya gak usah ditulis di blog. Aku gak suka seperti itu (menulis masalah pribadi di blog). Blog itu harus “jantan”. Makanya aku bilang blog bukan tempat buat hacker!” Jelasnya berapi-api.

“Karib, kalau kamu membaca blog orang lain apakah kamu merasa rugi?” tanyaku.

“Kalau tulisan dan masalah pribadi yang ada di sana, dan aku merasa gak ada manfaatnya buatku, aku bilang rugi,” jawabnya tangkas.

“Ok. Sekarang kalau blog itu isinya masalah pribadi, catatan harian atau persoalan cinta yang menye-menye, apakah kamu rugi jika tidak mambacanya?”

“Tidak!” Katanya.

“Ya sudah. Ketemu cara supaya kamu tidak rugi. Tak usahlah kamu baca blog seperti itu. Beres kan! Kalo soal Hacker yang kamu bilang ‘tidak pantas’ menulis di blog, itu hasil pemikiranmu. Silakan saja. Dari istilahnya seharusnya kamu bisa meraba. Orang yang mempunyai/menulis di blog disebut blogger, bukan hacker.”

Karib saya terdiam. Sepertinya dia sedang mengatur lalu lintas istilah dan kata-kata yang ada di kepalanya supaya tidak bertubrukan.

Advertisements