Aku geli, tulisan dan penampilanku dinilai berseberangan.

“Tampang sih bandel tapi begitu menulis menye-menye, romantis, mendayu-dayu,” nilai karibku usai membaca tulisanku.

Sungguh penilaian yang sangat aku hargai. Apalagi dikatakan oleh satu dari karibku di bumi. Tau sendiri, seorang karib mempunyai penilaian yang jujur dan tentu murni berasal dari hatinya. Aku tak mengamini tak juga menyangkal. Buatku, penilaian itu adalah bentuk kasih sayangnya buatku. Bentuk perhatian yang tidak berharap pada imbal apapun. Penilaian yang murni dan tulus.

Hmmm romantis ya. Aku pikir semua manusia punya sisi itu. Selama manusia masih mampu mengecap rasa tidak hanya melalui lidah dia akan miliki potensi romantis. Sisi dimana seseorang bisa menilai keindahan, menikmati wangi-wangian atau terpesona oleh alunan nada, adalah sisi yang buat seseorang berlabel romantis.

Dalam keterbatasan pikiranku, romantis itu sesungguhnya ada di dasar jiwa setiap orang. Tinggal bagaimana dia ditemukan dan diperlakukan. Tak beda dengan pemarah, cengeng dan humor. Ketika bagian-bagian itu tersentuh oleh keadaan di luar dirinya, dia akan menampakkan diri, menunjukkan eksistensinya dari dalam pikiran dan tubuh manusia. Itu adalah respon alami dari perasaan dan simbol-simbol batin yang terpanggil oleh luapan emosi.

Ah, teori. Itu teoriku. Sesungguhnya aku tak benar-benar yakin dengan pikiranku. Tapi inilah jawaban yang dapat aku temukan dari penilaian tentang romantis itu.

Karibku, jangan berhenti menilaiku. Karena mungkin inilah yang ingin aku dapatkan dari apa yang ada di pikiranku.

Terima kasih, Rib…

Advertisements