Orang tua rambut pendek ubanan itu memandangku. Dari jauh rambutnya berwarna putih seperti kapas dari pohon Kapuk. Sorot matanya tajam menembus tatapanku yang memperhatikannya sejak aku keluar dari sesaknya pintu metromini.

“Monyet, liat-liat dong kalo turun!”

Uh, tak sengaja aku menubruk seorang tentara yang motornya melaju di trotoar. Aku mengumpat dalam hati. Dia yang salah dia yang marah. Tapi Siapa yang berani sama tentara?

“Maaf Pak,” jawabku sambil ngeloyor. Meninggalkan tentara yang tetap melaju di trotoar dengan klakson keras dan mengagetkan orang-orang yang menghalangi jalannya.

Aku masih memikirkan orang tua berambut putih itu. Berkali-kali aku bertemu dengannya. Setiap aku turun dari angkutan umum, kali pertama yang kulihat adalah orang tua itu. Pakaian yang dia kenakan selalu sama denganku. Bahkan, dia membawa ransel yang juga sama dengan ransel yang menempel di punggungku. Penasaranku makin meninggi.

Hari ini aku ingin menemuinya. Aku sudah siapkan skenario untuk bertanya kepadanya. Tentang siapa orang tua itu sebenarnya, dimana dia tinggal dan kenapa memperhatikanku seperti itu. Kenapa dia menghilang begitu aku turun dari angkutan umum? Orang tua yang aneh.

Aku celingukan di belakang halte tempatku biasa turun. Sialan, kemana perginya orang tua itu? Aku mengumpat dalam hati. Biasanya dia menyambutku dengan tatapan tajam dari tempatku berdiri sekarang.  Tapi kemana dia? Aku hampir putus asa ketika tanpa sengaja kulihat sepasang mata tajam memperhatikanku agak jauh dari tempatku berdiri. Itu dia!, teriakku dalam hati.

“Kek!,” aku berlari sambil melambaikan tangan ke arah orang tua itu. Tak aku hiraukan orang-orang yang melihatku sepagi itu lari bagai kesetanan.

Aku masih ngos-ngosan mengatur nafas yang hampir putus saat akhirnya kudapati kakek itu berdiri tepat di depanku. Dia juga ngos-ngosan dibarengi batuk-batuk kering.

“Kek, kenapa Kakek lari?” tanyaku sambil tetap mengatur nafas.

“Kenapa kamu mengejarku?” tangkis orang tua itu menimpali pertanyaanku.

“Sebenarnya kakek ini siapa, kenapa setiap hari aku selalu melihat kakek memperhatikanku di halte itu?”

“Aku ini kamu!” Jawabnya ketus.

Aku jadi curiga, jangan-jangan orang tua di hadapanku ini tidak waras. Ingin sebenarnya segera meninggalkannya dan melanjutkan perjalananku ke kantor. Tapi sudah terlanjur menemuinya, aku harus tuntas menghabisi rasa penasaranku.

“Kakek tinggal dimana?”

“Aku tinggal di sini,” katanya sambil telunjuknya menyentuh pelipis kananku.

“Aku ini kamu. Aku tinggal di pikiranmu. Aku adalah keadaan yang kamu sisakan selagi kamu muda. Aku adalah kesedihan dan keputusasaan yang kamu terima dari semua ulah yang kamu lakukan sekarang. Aku adalah semua pikiran burukmu tentang masa depanmu. Aku adalah kekosongan jiwamu saat kamu bisa mengisinya di waktu sekarang. Aku adalah rentanya cara kamu menikmati semua kebaikan yang diberikan Tuhan kepadamu. Aku adalah kamu!,” lanjutnya.

Aku terpana mendengar jawabannya. Sulit rasanya menerima jawaban orang tua berambut putih itu. Jangan-jangan orang tua berambut putih di hadapanku ini memang orang gila. Seorang kakek yang tinggal sendirian di Ibukota. Seorang kakek yang ditinggal pergi istri, anak dan cucu-cucunya.

Aku kaget ketika tiba-tiba sebuah tepukan pelan bersarang di pundak kananku.

“Maaf Mas, kacanya mau dibersihkan dulu,” seorang pegawai restoran cepat saji sudah berdiri di sebelahku. Tangannya membawa ember berisi air sabun dan lap kaca.

Kesal. Kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat itu menuju kantorku. Samar-samar kulihat orang tua berambut putih itu masih menatapku tajam. Semakin lama orang tua itu semakin menghilang bersama air sabun yang disemprotkan pegawai restoran cepat saji tu.

16.15 – 17.15

Advertisements