Aku ciumi pipi anakku yang pulas setelah menghabiskan satu botol susu hangat yang aku buatkan untuknya. Kulirik jam di tembok kamarku, 02.32. Seharusnya saat ini aku dalam kondisi kantuk berat. Tapi aneh, aku tak rasakan sedikitpun kantuk.

Aku terduduk di pinggir tempat tidur. Kusandarkan tubuhku ke tembok. Aku yakin pasti ada sesuatu di kepalaku yang mengganjal sekalipun di 10 menit pertama sejak aku duduk tak kutemukan persoalannya. Aku tarik lagi otakku untuk mengingat-ingat kejadian sepanjang hari ini. Mulai dari aku berangkat kerja hingga pulang. Tak ada yang istimewa. Biasa saja. Tapi kenapa pikiranku terasa berat ya?

Aha, pasti masalah pekerjaan. Hm, iya mungkin soal itu. Kenapa aku masih memikirkan pekerjaanku yang belum tuntas hingga ke rumah? Apakah tak ada waktu lagi untuk memikirkannya besok di kantor saja?

Aku ingat ada sahabatku yang pernah menyarankan kepadaku; Saat pulang kerja, sebelum masuk rumah, coleklah pohon, pagar, batu atau apa saja yang aku temukan sambil berkata, “Aku titipkan beban pekerjaanku kepadamu.” Dengan begitu, saat membuka pintu, beban pekerjaanku tak kusisakan untuk orang-orang yang di dalam rumah.Β 

Saran yang bagus.

Aku pikir memang begitu. Tidak ada untungnya membawa beban pekerjaan ke dalam rumah. Lebih baik membawa oleh-oleh hal yang menyenangkan untuk dibagi di rumah, bukan muka sumpek dan tubuh lunglai. Kantor dan rumah adalah tempat yang jauh berbeda, sekalipun keduanya mempunyai hubungan yang sangat dekat.

Lega rasanya saat kutemukan ganjalan kantukku. Akhirnya aku rebahkan tubuhku di sisi anakku. Sebelum tidur, kulirik lagi jam di tembok kamarku, 06.10.

Ya ampun…

Advertisements