Entah kenapa, tadi malam dalam perjalanan pulang kerja, aku memikirkan kata “ulang tahun”. Mungkin aku melamun sehingga pikiranku terbawa ke beberapa hari lalu, tepatnya 19 Maret, setahun hari lahir anak ke-2-ku. Pada tanggal yang sama, satu sahabatku melahirkan bayi laki-laki montok dan diberi nama Denika Putaya. (Selamat ya Fe!)

Yang mengganggu pikiranku bukanlah kelahiran itu. Melainkan kata “ulang tahun” yang selalu diucapkan saat seseorang memperingati hari lahirnya. Buatku tahun tidak terulang. Lalu bagaimana kata “ulang tahun” bisa ditemukan? Dalam bahasa Inggris-pun ucapan selamat hari lahir berbunyi Happy Birthday, bukan Happy Birthyear! Aku jadi makin penasaran dengan kata “ulang tahun” yang biasa kudengar.

Aku tidak meremehkan Bahasa Indonesia, karena aku suka Bahasa Indonesia dan aku berbahasa Indonesia. Tapi kenapa pikiranku tiba-tiba terusik pada kata “ulang tahun”, padahal selama lebih dari 30 tahun aku sering mendengar kata-kata itu? Apakah karena aku berada pada kondisi lelah usai kerja dan melamun? Tidak juga! Pagi ini, saat badan dan pikiranku lebih segar, aku tetap saja merasa bahwa kata “ulang tahun” mengganjal pikiranku.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku masih saja merenung. Mencari celah di seluruh komplek otakku untuk menemukan jawaban sebelum aku menuliskannya di sini. Tapi sama saja, keterbatasan otakku tak juga menemukan jawaban yang memuaskanku.

Sekali lagi, menurutku tahun tidak terulang. Boleh jadi hari bisa terulang, tanggal bisa terulang, dan bulan bisa terulang. Tapi tahun?

Selamat hari lahir anakku…

Advertisements