Aku memandang kalender yang berada di atas mejaku. Satu persatu angka dan hari aku pelototi sampai mataku berair. Pikiranku masih berkecamuk mempersoalkan bagaimana orang mulai berpikiran untuk menemukan angka, bagaimana orang mempunyai ide untuk menyusun angka bahwa setelah satu adalah dua, setelah lima adalah enam dan seterusnya. Gila betul! Orang jenius atau orang sok tahukah yang bisa membuat urutan senin, selasa sampai minggu dan kemudian digunakan oleh manusia di seluruh dunia. Tak kalah heran, bagaimana dia bisa menemukan kata s.e.n.i.n dan seterusnya? Kenapa angka dua tidak bisa kita sebut angka delapan? Kenapa setelah Rabu selalu Kamis, tidak bisakah kita mengubahnya menjadi Minggu?

Apa yang akan terjadi jika ada sebuah perombakan besar-besaran di dunia yang mengizinkan orang untuk merubah urutan angka sesuai keinginannya, ditambah kebebasan meletakkan hari minggu di urutan hari. Aku tertawa dalam hati. Pasti berantakan seluruh permukaan bumi.

Bayangkan saja, orang berdesakan mencari nomor tempat duduknya di sebuah bis antar kota yang –oleh perusahaan bus tersebut—dipasang tidak berurutan. Belum lagi seorang direktur terbengong-bengong di kantornya karena dia sendirian di sana di hari Senin –yang oleh pegawainya diganti hari Minggu. Lebih besar lagi, bom nuklir meledak di sebuah benua, karena pengatur waktunya diset untuk meledak di angka 0 pada hari Sabtu. Sedangkan waktu penghitung mundurnya oleh pembuatnya sudah diset dari 30, 5, 0 dan Senin, Rabu, Sabtu. Luar biasa!

Saking takutnya membayangkan hal yang lebih hebat bisa terjadi, kusudahi saja tulisan ini. Kuputar balik logikaku untuk ‘menyeimbangkan’ pikiran kritis-gilaku tentang merubah urutan angka dan urutan hari. Aku acungkan jempol untuk manusia yang telah ‘mendefinisikan’ dua hal dari milyaran hal besar lain. Kugeleng-gelengkan kepala. Kagum.

Ditulis: 26 April 2005, Diambil dari emprithitam

Advertisements