Pertama, tentu aku senang bisa kembali mengalirkan seribu pikiranku ke dalam tulisan yang entah akan dibaca orang atau tidak. Sejujurnya aku tidak peduli. Bahkan aku tidak mau tahu apakah orang akan mengerti makna tulisan yang tertuang di sini atau tidak. Anehnya, saat menulis, aku masih memikirkan bagaimana tulisan ini bisa tertata dan enak dibaca. Aku masih memikirkan kesempurnaan tulisan yang aku buat dengan memilih dan menyusun kata sebaik yang aku mampu. Tapi buat apa? Buat siapa? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak peduli dengan orang akan membaca tulisan ini atau tidak? Aku sadar, kewarasanku berada di ujung tanduk…

Kedua, aku seperti menemukan kembali ‘sahabat’ aneh yang kusebut ‘tulisan’. Bayangkan, aku yang biasanya tertawa, menangis, sedih, marah, dan sebagainya di pundak orang-orang terdekatku, tiba-tiba harus melampiaskan semua itu dengan mengandalkan jariku memilih huruf di papan ketik. Harus kuakui, ini terasa lebih sulit untuk dilakukan. Papan ketik ini tak boleh basah oleh air mata saat kupilih hurufnya ketika aku bersedih dan menangis. Pun tulisan yang kubuat tidak akan memberiku jalan keluar, tak akan memberiku saran dan tak akan pernah menyalahkanku. Dia hanya diam. Karena dia hanya memberiku tempat untuk menggelontorkan pikiranku dalam kata-kataku.

Ketiga, ini yang terakhir, tulisan ini menjadi surgaku; Surga pikiranku, surga kegelisahanku, surga semua emosiku. Sekaligus menjadi neraka yang akan membawaku ke dalam pembenaran pikiranku sendiri di banyak hal. Dan ini berbahaya. Tapi, itu resiko, pikirku.

Jadi, sepertinya aku harus menempatkan tulisan ini sejajar dengan akal sehatku, supaya bisa buatku bercermin. Dengan membaca apa yang tertuang di satu tulisan di beda waktu, mungkin aku bisa belajar dari masa lalu. Belajar tentang banyak hal dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi saat sebuah tulisan tertulis. Semoga.

Ah, sudahlah, biarkan saja kata-kata sarat makna. Aku mulai saja membaca kata-kata berkata…

Advertisements