Latest Entries »

Bertemu Kawan Lalu

Hari ini aku bertemu beberapa sahabat lamaku yang lama tak kujumpa. Yang kusuka adalah kehangatan mereka yang tak pernah layu. Serasa tetap menjadi bagian dari sebuah pelukan kekerabatan sekalipun waktu selalu pisahkanku.

Lyla – Rasa Biru

pernah ku coba tuk melupakanmu
bayangan tentang khilaf atas masa laluku
pernah ku coba tuk menemuimu
ternyata kau tak datang berharap lebih aku menunggu

haaaa aaaa menyakitkan
haaaa aaaa menyesatkan

separuh nafasku seiring hujan dan kau pun pergi
pergi untuk selamanya tak ku dapat isyarat maafmu
separuh nafasku seiring hujan dan kau pun pergi
pergi untuk selamanya tak ku dapat maaf darimu

rasa biru selimuti hatiku, rasa biru tetapkah di situ
rasa biru selimuti hatiku, rasa biru tetapkah di situ
rasa biru selimuti hatiku

 

Aku mengenalnya lebih dari 5 tahun yang lalu. Hubunganku dengan dia dekat. Satu keanehan yang dia miliki adalah dia tidak pernah memberiku nomor HP-nya, sekalipun aku minta. Bahkan dulu, untuk tahu tanggal lahirnya pun aku harus berusaha sendiri (kayak artis aja deh!). Sekalipun akhirnya berhasil menemukan tanggal lahirnya, tetapi sampai hari ini aku tidak tahu nomor hp-nya. Sungguh seorang teman yang aneh…

*mungkin takut aku sms/telp mau pinjem uang hihihihi…

Kisah Pria Paruh Baya

Hujan deras tadi pagi mempertemukanku dengan seorang pria paruh baya di sebuah warung kopi. Perawakannya tidak terlalu tinggi, tapi terlihat gurat ketegasan di wajah dan telapak tangannya.

Setelah saling menanyakan hal-hal kecil yang tidak begitu penting (kerja dimana, sudah berkeluarga atau belum, rumah dimana, dsb) tanpa sadar alur pembicaraan mengarah ke cerita tentang hidupnya.

Sebuah kecelakaan menimpanya sepulang ‘nyekar’ keluarganya di salah satu kota di Jawa Tengah. Bus yang ditumpanginya menghantam sebuah truk yang parkir di kanan jalan di shubuh naas itu. Sopir dan 3 penumpang di bagian depan tewas mengenaskan. Sementara Pria paruh baya itu terjepit di bagian bawah tubuhnya. Tulang kaki kananya remuk, bahkan telapak kakinya tertinggal di dalam bus saat evakuasi.

Dengan sedih dia bercerita, bagaimana dia tidak merasakan sakit apapun karena –menurut istrinya– dia koma selama 1 bulan lebih. Saat sadar kaki kanannya sudah diamputasi hingga di atas lutut.

Cerita yang membuatku iba di pagi hujan itu. Perasaan itu makin mendalam tak kala dia bercerita bagaimana beberapa kerabat yang membantunya justru menikamnya dari belakang. Dana asuransi yang dia terima ludes dikelola saudaranya. Bahkan sisa pengobatan di rumah sakit hampir 40jt tidak terbayarkan. Malangnya… Padahal nilai asuransi yang diterimanya hampir 2 kali lipat dari biaya rumah sakit itu.

Dibalik penyesalan atas sikap saudaranya itu, lelaki paruh baya di depanku tetap semangat melanjutkan hidupnya menafkahi istri dan dua anaknya yang masih kecil. Dan juga membayar cicilan kaki palsu yang dipakainya (Aku sempat melihat kaki kanan palsunya yang masih berwujud besi. Hanya bagian telapak kaki yang terbuat dari kayu dan sudah dilapisi karet. Jika sudah lunas, semuanya akan dilapisi karet hingga menyerupai kaki kirinya yang masih normal. Kurang enam juta lagi, katanya).

Pekerjaan apapun dilakukannya, membangun rumah, memasang ubin dan sebagainya. Sedikitpun tak ada bahasa tubuh atau tutur katanya yang berharap pada belas kasih dari orang lain.

Cerita berakhir ketika hujan mulai reda. Sedikit tertatih dia berjalan meninggalkan aku.

Semoga engkau dan keluargamu diberi kekuatan dan rezeki berlimpah, Pak. Amin.

Mencibir di Hasil Akhir

Hal paling sulit yang aku rasakan adalah menebak secara akurat keinginan seseorang. Setelah lama berkecimpung di dunia otak-atik gambar dan warna tetap saja kemampuan itu tak pernah sampai ke ujung tertingginya. Yang bisa aku lakukan adalah meraba hingga mencapai jarak terpendek dari keinginan seseorang atas ‘pesanan’ yang diinginkan.

Sebenarnya keinginan orang atas ide atau ‘tindakan’ kreatif kita juga tidak kaku sama persis dengan apa yang ada di otaknya. Dia akan membuka pintu ‘negosiasi’ karena sejujurnya orang tadi tidak tau pasti apa keinginan mutlaknya. Dia sadar, ini adalah kerja seni, bukan sains yang nilainya mutlak. Tapi itulah hebatnya kreatifitas, bisa memvisualisasikan keinginan seseorang yang disampaikan secara lisan, tidak runtut, dan kadang-kadang berbenturan dengan nurani seni atau ‘kaidah-kaidah’ kreatif sang creator.

Hal paling menjengkelkan adalah bertemu orang yang mendaulat nurani seni kita untuk menebak akurat-tepat-persis keinginannya, sedangkan dia tak mengerti apa yang dia sendiri maui, hingga dia mencibir di hasil akhir atas ‘usaha seni’ yang kita perjuangkan. Orang seperti inilah yang harus segera kita alt+ctrl+del eksistensinya karena asli ngeselin!

Beberapa hari ini aku berpikir tentang ‘kepentingan’. Kepentingan menjadi semacam tolok ukur paling tinggi untuk menyimpulkan ‘ingin’, ‘harap’, ‘butuh’, ‘pamrih’, dan nilai-nilai mutualisme yang lain. ‘Kepentingan’ ini malah menjadi semacam ‘keinginan’ yang tersirat dari sebuah hubungan. Hubungan apa? Hubungan apa saja, pertemanan, persaudaraan, keluarga dan lain-lain, bahkan permusuhan!. Aku masih ingat status salah satu kawan di facebooknya: Tidak ada pertemanan yang abadi, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Sungguh ‘kepentingan’ mempunyai arti yang sangat dalam.

Saat ‘kepentingan’ ini berlaku dalam sebuah hubungan sosial maka semua jalan berujung pada nilai-nilai keuntungan semata. Bisa keuntungan materi atau keuntungan non materi. Dan sebagai manusia, wajar jika mengakui semua mempunyai kepentingan. Kepentingan atas pekerjaan, kepentingan atas pergaulan, kepentingan atas kepercayaan; Kepentingan atas apapun!

Maka rambu “Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Berkepentingan” sesungguhnya masih terlalu absurd. Karena siapapun yang masuk pasti mempunyai kepentingan. Bahkan ketika seekor kucing memasuki ruang ‘terlarang’ itu!. Kucing itu pasti punya kepentingan; mencari makan, mengejar tikus atau apapun. Apalagi jika manusia yang memasukinya…

Kepentingan adalah segalanya karena keberadaanya melingkupi semua hasrat dan niat manusia atas sebuah hubungan. Tak ada yang tidak penting, karena semua mempunyai kepentingan.

Disiksa Sisa Kenangan

Kuhimput dadaku yang tiba-tiba berdetak di kedalaman tak terhingga dengan kedua lenganku. Tapi masih saja dentumnya goyahkan langkahku yang berusaha tegak berdiri. Sampai akhirnya aku terjatuh bertumpu pada satu lutut kananku. Aku kibaskan kepalaku berulang untuk mengusik bayangan yang selalu menghantuiku; Masa lalu yang selalu saja meninju-ninju hatiku seperti ingin menghancurkan dindingnya.

Aku ingat tak sekali dua kali perasaan seperti itu muncul dan menyudutkanku pada kesendirian yang panjang. Begitu juga pada kepedihan, pada kekecewaan dan pada kerinduanku. Segores cerita itu telah membekas dalam di sekujur masa laluku yang tak mungkin dengan begitu saja bisa terhapus. Ini sungguh berbeda dengan guratan di pasir pantai yang hilang tersapu ombak yang membelainya.

Aku sadari bahwa waktu juga yang akan membantu menyembuhkan luka menganga di jiwaku. Hingga entah kapan…

Rasa ‘pantang menyerah’ atas usaha yang dijalani adalah anugerah hebat jika dimiliki. Semangat menggebu laksana bisa melumerkan sebuah batu menjadi segenggam debu. Apalagi jika semangat itu bertengger atas alasan mempertahankan kehidupan yang tak ingin terputus di bumi ini.

Jadi jangan heran jika melihat semangat pantang menyerah Petugas Kebersihan yang rela menghirup aroma sampah membusuk dan tanpa ragu memungut dan membersihkannya. Atau semangat pantang menyerah seorang pengasong alat tulis yang naik turun metromini di perempatan sekalipun belum tentu laku besar dalam sehari. Atau mungkin juga semangat pantang menyerah seorang ibu penjual jamu gendong yang berjalan kaki keliling kota mencari pembeli segelas-dua gelas jamu ramuannya. Dan banyak lagi…

Dengan logika terbalik mungkin kita bisa sadari bahwa siapapun pasti mempunyai rasa pantang menyerah dalam hidupnya. Pantang menyerah seperti sebuah keharusan untuk tetap survive mempertahankan sesuatu yang kita yakini.

Mungkin kita pantang menyerah membuang sampah sembarangan sekalipun larangan dan himbauan tertulis dimana-mana. Mungkin juga kita pantang menyerah mengumpat seorang pedagang asongan yang memaksa masuk di metromini penuh sesak dan panas di satu hari. Atau mungkin juga kita pantang menyerah meneriaki tanpa santun seorang ibu penjual jamu yang tak mendengar panggilan saat kita butuh jamunya. Dan seterusnya…

Apakah benar semua itu berarti ‘pantang menyerah’?

Raksasa Kerdil

Duduk sendiri, kutembus kaca di depanku yang menghadap jalan hiruk pikuk di jam pulang kantor. Segelas besar ice green tea bersisa bongkahan kecil beberapa batu es perlahan cair dan tinggalkan genangan melingkar di alas gelas. Kutitipkan kepenatanku pada tetesan uap air di sepinggiran gelas itu untuk mengalir, menguap lalu hilang. Gontai kuambil sebuah majalah lawas dari rak kayu tak jauh dari tempatku duduk. Kubolak-balik lembarannya sampai terhenti pada sebuah rubrik fiksi berjudul ‘Raksasa Kerdil’:

…Terus terang bayangan raksasa kerdil itu masih saja mengambil alih sebagian pikiranku beberapa hari ini. Raksasa kerdil yang selalu memandang bumi pada pilahan derajat. Raksasa kerdil yang selalu menilai dirinya adalah pengimbang tata surya. Raksasa kerdil yang meletakkan segala kebenaran di sekelilingnya adalah absurd. Raksasa kerdil yang menutup mata, hati dan pikirannya dengan segala prasangka. Raksasa kerdil yang menduplikasi hantu yang paling ditakutinya…

Konon sebelum menjadi seperti sekarang ini, raksasa kerdil itu adalah seorang manusia yang memiliki rasa hormat terhadap orang lain, tak sekalipun pernah merendahkan orang-orang di sekelilingnya. Tak pernah terbersit sedikitpun mengolah kata atau mengumbar prasangka terhadap apapun yang dialaminya. Intinya, dia adalah manusia yang penuh cinta kasih. Sampai keadaan duniawi yang menghimpit mengikis nuraninya, menggerogoti jiwa-jiwa putihnya hingga dia melupa dan menjelma menjadi seorang raksasa kerdil.

Aku menghentikan sejenak mataku dari majalah yang kupegang. Seorang wanita cantik menyapaku dan menawariku bungkusan rokok sambil tersenyum akrab. “Maaf, saya tidak merokok, terima kasih.” tolakku halus.

…Raksasa kerdil itu kini tinggal sendiri di hutan lebat. Satu-satunya teman adalah prasangkanya. (tamat)

Kotak – Selalu Cinta

Kau tanya, aku menjawab
kamu minta, aku berikan
ku sayangi kamu
Ku bicara, kamu yang diam
ku mendekat, kamu menghindar
separah inikah kamu dan aku

Bagaimana bisa aku tak ada di setiapmu melihat
sementara ku ada
bagaimana bisa kamu lupakan yang tak mungkin dilupakan
aku selalu cinta, selalu cinta

Kamu hilang, aku menghilang
semua hilang yang tak kukira
jangan tanya lagi, tanya mengapa

Bagaimana bisa aku tak ada di setiapmu melihat
sementara ku ada
bagaimana bisa kamu lupakan yang tak mungkin dilupakan
aku selalu cinta tapi kamu tidak
tapi kamu tidak, tapi kamu tidak

Bagaimana bisa aku tak ada di setiapmu melihat
sementara ku ada, aku selalu ada
bagaimana bisa kamu lupakan yang tak mungkin dilupakan
aku selalu cinta tapi kamu tidak
tapi kamu tidak, tapi kamu tidak